Dan dia bilang,

Di suatu malam yang ramai bersama teman-teman dan bergelas-gelas es teh manis, masuklah telepon itu. Ragu hati ingin menjawab, tetapi tak sampai hati juga setelah berbelas-kali teleponnya tak saya acuhkan.

Terjadilah percakapan itu, dimana dia bertanya, dan saya menjelaskan. Menjelaskan bahwa saya tidak suka jika ia bersikap seperti yang sudah-sudah, dan walaupun saya sangat-sangat suka kepadanya, saya tidak akan melanggar prinsip saya (kalimat terakhir tentu hanya tertahan di tenggorokan dan tak terucap).

Lalu ia berkata, “kok rambutnya dipotong pendek, sih? Bagusan kalau gondrong…”

Satu kalimat, dan saya pun kembali terjerembab. Tersungkur, dan kembali curi-curi pandang melihat dia dari kejauhan. Terkesima, dan tergagap ketika dia datang mendekat di keesokan hari dan setelahnya.

Mungkin benar kata orang bijak, when it comes to love, everybody is an idiot…