This Is My Story : The Sleepless Dreamer

Waktu masih SD, guru saya bercerita tentang Amerika. Diperlihatkan petanya, lengkap dengan fotonya. The dreamland, begitulah juluknya.

Someday, saya akan kesana, ujar saya. Boleh saja bermimpi, tapi harus realistis, kata beliau. Kala itu saya masih tujuh tahun, kata ‘realistis’ belum ditulis di kamus saya.

Tepat tujuh tahun lalu, saya memutuskan drop out dari kampus. Saya ingin membangun perusahaan sendiri. Modalnya cuma tekad; tanpa uang, apalagi gelar MBA.

Banyak orang yang tertawa sinis menanggapinya. Jangankan mendirikan perusahaan, dapat kerja yang layak saja sudah bagus. Mimpi di siang bolong, demikian vonis mereka.

“To those who can dream, there’s no such place as faraway.”

Read More