The Way You Look Tonight

(postingan sebelumnya: Mengunjungi Paman sam)

Berhubung saya adalah peserta “sisipan” yang bergabung di menit-menit terakhir, maka itinerary saya pun berbeda dengan Bang Enda, Dita, dan Mbak Rita. Saya mengambil rute yang berbeda dengan ketiga kolekha saya tersebut; saya tidak melewati Seoul. Pesawat dengan nomor JL-726 yang saya tumpangi langsung menuju Tokyo Narita International Airport. Ini juga artinya, sepanjang kurang lebih delapan jam perjalanan, saya akan sendirian, mengarungi gelapnya langit malam di luar, di pesawat yang dipenuhi dengan orang-orang yang bahasanya tak saya pahami. Delapan jam, menjadi orang asing, sendirian. Menyeramkan, jenderal!

Betul saja firasat saya, bahwa pilot dan awak kabin di pesawat itu akan berbahasa Jepang. Jika pun mereka berbahasa Inggris, maka saya sudah menyangka pronounciation-nya takkan jauh berbeda dengan rekan-rekan waktu saya masih kerja di sebuah perusahaan Jepang dulu; butuh kesabaran dan konsentrasi agak tinggi untuk memahaminya dalam sekali ucap.

Tapi mungkin, Tuhan tahu saya sedang gugup. Sampai saat pak pilot yang duduk di depan untuk memimpin pesawat agar baik jalannya mengisyaratkan bahwa pintu pesawat telah ditutup, dua bangku di sebelah saya masih kosong. Artinya, saya bisa selonjoran sampai Jepang. Ahoy!

Read More

Mengunjungi Paman Sam

Semua hal konon harus ada awalnya. Tak ubahnya sebuah skripsi yang pasti diawali dengan landasan teori, dan sebuah novel yang diawali dengan prolog, maka cerita pun ini diawali dengan sebuah telepon di malam hari.

“Mbak Dian USE”, demikian nama sang penelepon muncul di layar telepon genggam pintar –tapi sering lemot– milik saya. Mbak Dian yang cantik, baik hati, ramah dan murah senyum ini adalah salah seorang kolekha saya, yang bekerja di USE. Bukan, bukan Universitas Sumatera Eaaa, apalagi Uganda Security Exchange, melainkan United States Embassy.

Setelah mengobrol ngalor – ngidul – ngulon – ngetan, Mbak Dian mengundang saya untuk datang ke Pizza Mar**no malam itu. Loh, saya pun mulai bingung. Mbak Dian bertanya, apakah saya tidak mendapatkan undangan darinya yang dititipkan melalui seorang teman, dan saya katakan tidak. Saya katakan bahwa saya sedang di rumah, dan hampir tak mungkin saya bisa sampai kesana dalam waktu singkat, kecuali restoran itu telah membuka cabang di Medan.

Mbak Dian terheran-heran kenapa saya bisa ada di Medan, saya pun ikut heran kenapa tiba-tiba Mbak Dian mengganti marga saya. “Ini … Putra Nababan, kan?”, katanya penuh selidik, dan tawa saya pun meledak. Ternyata beliau salah dial, dan bermaksud menelpon news anchor yang terkenal itu.

Tak lama berselang –masih di minggu yang sama, Mbak Dian menelpon lagi. Kali ini dia bertanya apakah saya punya paspor, dan apakah saya punya waktu luang selama tiga minggu. Saya bilang jadwal saya selalu tentative; tergantung prioritasnya. Lantas saya tanya, kenapa Mbak Dian bertanya soal itu. “Putra mau ke Amerika, nggak?” katanya lagi.

Karena punya firasat bahwa Mbak Dian salah sambung lagi, dengan ringan langsung saya iyakan. Dia pun lantas meminta saya untuk meng-update CV saya dengan versi yang lebih baru, dan meminta saya untuk menunggu kabar darinya dalam beberapa hari. Saya yang masih ketawa-ketiwi mengikuti saja alur percakapannya, dengan sedikit perasaan geli, bagaimana mungkin ujug-ujug saya ditawari berangkat ke Amerika.

Tapi lantas, sebelum menutup telepon dan sebelum saya sempat berkomentar untuk mengingatkan soal salah sambung, dia bilang, “ini … Putra Nasution, kan?”.

NAH LOH! Berarti…?

Beberapa jam sebelum boarding menuju jepang

Read More