Surat Untuk Cucuku…

Ketika engkau membaca surat ini, berarti malam ini jantungmu sedang berdenyut tak menentu, karena besok kau akan menikahi orang yang engkau cintai setengah mati. Mungkin kakek tidak akan bisa secara langsung memberikan petuah pernikahan, atau nasehat tentang bagaimana kau dan pujaan hatimu sebaiknya menjalani kehidupan kalian. Untuk itulah kakek menuliskan surat ini, sebagai ucapan selamat, permintaan maaf sekaligus sebagai sebuah wasiat.

Cucuku tersayang, karena saat ini kau sedang bersiap untuk menempuh bahtera baru dalam hidupmu, maka aku ingin menceritakan tentang sesuatu, sebagai kenangan bagimu, juga sebagai nasehat sekaligus pengalaman agar kau bisa belajar dari sejarah.

Read More

Dear, September..

Aku rindu sekali ingin menulis lagi, bercerita tentang apapun seperti dulu, mendeskripsikan dunia melalui mata seorang pendosa yang merindukan surga seperti aku ini. Tapi kau tentu tahu, semenjak aku kehilangan dia, aku juga kehilangan satu-satunya sumber inspirasiku.

September, terlalu berlebihan kalau aku katakan kau bisa menggantikan dia sebagai sumber inspirasiku. Tapi aku harus mengakui bahwa ketika aku bertemu dengan kamu, aku seperti mendapatkan cahaya baru dalam kegelapan yang mengelilingiku. Tak perlu terang benderang seperti dia dahulu, hanya sekedar cahaya temaram untuk dapat membaca situasi pun aku sudah bersyukur. Aku bersyukur bisa berkenalan dengan kamu.

Read More

Memahami Dua Puluh Enam

Meninggalkan jumlah seperempat abad membuat banyak pemikiran timbul di kepala. Pemikiran mengenai –ehhmm– pernikahan, kehidupan di masa depan, kebahagiaan, dan seterusnya, dan lain-lain.

Aku mengerti lazim bahwa orang akan dengan sangat senang hati “memojokkan” pada bujang lapuk di usia sebegini, dengan tanpa perasaan berdosa dan mengalir selepas tiupan angin yang menusuk tulang di malam hari, “kapan mau menikah?”

Kalau saja memaki itu bukan dosa, apalagi kepada orang yang lebih tua, sudah tentu akan kumaki mereka sepuas hati. Karena pertanyaan itu akan menempatkan aku diposisi bersalah, seakan-akan akulah yang memilih untuk tidak menikah secepatnya, dan seakan-akan menikah itu semudah membeli ikan di pasar. Padahal mereka lupa, membeli ikan saja harus dipilih-pilih dengan hati-hati, apalagi calon pasangan hidup.

Toh mereka juga tidak tahu bahwa aku baru saja patah hati lagi, tepat sehari sebelum berulang tahun. Mereka tidak tahu, sepantasnya tidak perlu tahu, dan aku pun tak mau bercengeng-cengeng lagi sambil mengeluarkan curahan hati yang diakhiri dengan pertanyaan –yang tak pernah terjawab, “kenapa…?”

Read More

Tetapi…

Kalimat ini adalah sebuah distraksi kata yang majemuk –sesuatu yang sebetulnya paling saya hindari dan takutkan. Ketika seseorang berkata tetapi, rasanya seperti ingin menutup mulutnya dengan sebuah wheel-mouse yang paing menyebalkan.

“Aku juga suka sama kamu Put, tetapi…”

Saya akan memilih untuk tidak mendengarkan sambungannya, tapi tidak mungkin kan?

Itulah manusia, selalu “mencari aman”.

Dan kita bermain api,

“Halo..”

Sunyi dan kosong merebak menyesakkan dada, hanya tercemari dengan sedikit desis blower Air Conditioner yang diset pada suhu 19 derajat celcius.

“Halo..” Sekali lagi suara itu terdengar, mencoba memecahkan badai di hatinya.

“Aku rindu sekali, ingin bertemu kamu..”

Aretha Franklin seolah mengiringi ucapan yang menggantung itu, mencoba mengkonfrontasi kebekuan yang menggetarkan perasaan. Lelaki itu pun berharap suara diseberang sana yang menyanyikan “I Say A Little Pray For You” untuknya.

The moment I wake up
Before I put on my makeup
I say a little pray for you
While combing my hair now,
And wondering what dress to wear now,
I say a little prayer for you

“Aku juga rindu sekali, dan sangat ingin bertemu.”

Read More

Melambaikan Tangan Dan Melangkah Pergi

Cuaca Jakarta sedang tidak ramah beberapa hari belakangan ini, bahkan cenderung muram seperti sedang menyimpan sebuah kesedihan yang tak terungkapkan. Ditatapnya lagi langit sore Jakarta yang sedang mendung, dan dia seperti dapat merasakan bahwa mereka sedang berkomunikasi. Awan hitam yang menggelayut di langit magrib keemasan itu seperti sedang mencoba berbicara kepadanya.

Sudah tiga hari pula ia tak berinteraksi dengan manusia nyata. Mungkin tidak sepenuhnya tiga hari, jika menjawab salam mbak Nani –asisten rumah tangganya– yang baru saja tiba, terhitung sebagai interaksi sosial langsung. Selebihnya, ia lebih banyak berdiam diri, dan menutup rapat-rapat telinganya sambil mendengarkan lagi-lagu yang menggambarkan perasaan hatinya.

Tepat ketika JA Verdianto menyanyikan “Hanya tinggal kita berdua”, sms tersebut masuk ke telepon genggamnya. Dilihatnya jam di dinding, sambil menghela nafas berat. Sms tersebut dikirim empat jam yang lalu, dan baru ia terima saat ini. Betapa operator telekomunikasi saat ini tidak mengenal lagi istilah customer satisfaction, hanya atas nama menyedot pelanggan sebanyak-banyaknya dengan tarif yang menyesatkan.

Namun seketika matanya terpaku kepada beberapa baris kalimat yang tertera di layar. Kekesalannya tidak lagi tertuju kepada operator, dan sejujurnya ia tak tahu harus kesal kepada siapa. Dibacanya lagi kata demi kata yang ditujukan kepadanya tersebut berulang kali, berharap ia salah membaca. Atau jika dibaca berkali-kali, mungkin kalimat tersebut akan berubah makna. Tapi tidak, kalimat itu tetap sama… Read More

euphoria

Gelisah dan menatapi langit-langit kamar dengan gamang. Selama satu jam dia telah mencoba untuk tidur, tapi tidak membuahkan hasil. Jangankan tertidur, mengantukpun tidak. Ditekannya tombol power laptopnya yang sedari tadi malam aktif dalam mode suspend.

Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Tapi dia acuhkan, walaupun suara-suara yang terdengar mengalahkan suara yang mengalun sayup-sayup dari LCD TV 29 inch yang menggantung di pojok kamar tidurnya. Terdengar disana statement Steve Jobs yang sedang diwawancara di Bloomberg, yang kemudian disambut gelak tawa ketika dia ditanyakan soal kemiripan GUI Windows Vista dan Mac.

Tapi tetap, dia tak tertarik. Perhatiannya kembali tertuju ke layar laptop yang kini menunjukkan halaman hitam polos dengan beberapa baris teks. Tak sampai 2 detik, jari-jari itu mengetik, sudo alva, dan lalu password–yang urung diganti selama 2 tahun; deardea.

Read More

Je t’aime, mon amour (part 1)…

HALAMAN PARKIR PLAZA MEDAN RAYA, tepat 5 menit setelah hitung mundur selesai tidak jauh berbeda dengan kebanyakan tempat lainnya di seluruh Indonesia dan mungkin di seluruh dunia, masih penuh sesak diisi oleh anak-anak muda yang sedang menikmati suasana pergantian tahun yang meriah.

Di langit malam Medan masih berpendar cahaya dari pecahan kembang api yang berwarna-warni yang bermacam bentuk. Suara terompet masih terdengar dimana-mana, seakan mengiringi hentakan musik rock dari panggung sebelah timur gerbang. Sedemikian bersatunya irama yang tercipta, sehingga dari jauh terdengar seakan-akan yang beraksi di atas panggung adalah band ska.

Semua orang merasakan semangat dan aura yang tersebar, aura tahun baru. Semuanya, kecuali dua orang yang terlihat sedang bertengkar.

“Lebih baik sekarang kamu jujur sama aku Roy,” gadis itu terisak sambil menyeka air matanya, “kamu memang pacaran sama dia kan?”

“Kenapa kamu lebih percaya sama orang sih dari pada pacar kamu sendiri? Aku nggak habis pi–”

“orang lain kata kamu?” Sorot mata gadis itu tiba-tiba menajam, “ORANG LAIN?? Aku mergokin kamu jalan sama dia di 21 Roy!!”

Sontak raut muka laki-laki yang dipanggil Roy itu berubah. Dia sama sekali tidak menyangka kalimat itulah yang akan keluar. “Tapi Fi … aku sama dia cuman temenan aja kok, kamu gak boleh berprasangka buruk begi–”

“Emang temen pelukan kalo lagi ngantri tiket Roy? Emang temen itu saling mencium satu sama lain? Emang temen..” Gadis itu tidak sanggup meneruskan kalimatnya, “..emang temen masuk ke hotel berdua??” Fia tenggelam dalam tangis. Walaupun rambutnya yang panjang menutupi wajah karena sedang menunduk, tapi isak tangisnya terdengar begitu jelas.

Roy terlihat serba salah. Dia merangkul gadis disampingnya perlahan –seolah-olah yang disebelahnya adalah granat yang siap meledak begitu salah sentuh, tapi gadis itu terlihat tak perduli.

~~~~~~~~

Deo mengajak Fia makan siang di Kafe Air Mancur yang terletak di lantai 5 Plaza Cahaya. Sebetulnya, ada satu lagi cabang kafe ini, masih di dalam kompleks plaza yang sama. Hanya saja, tempatnya terlalu kecil, dan sekelilingnya hanya ditutupi oleh kaca yang tembus pandang. Kurang privasi, begitu Deo menganggapnya.

Sayap timur kafe itu terlihat sepi, hanya ada Deo dan Fia yang duduk di pinggir jendela. Deo selalu menyukai kafe ini –khususnya meja yang sedang ia duduki, karena dari jendela dia bisa melihat jalan Gatot Subroto dari atas. Dan tentunya yang paling utama, karena Fia tergila-gila pada es krim kafe ini.

“Kenapa sih Deo masih nunggu Fia? padahal kan Fia udah nyakitin Deo?”

Nyakitin? Emangnya Fia nyakitin Deo?” Yang ditanya memandang bingung.

“Maksudnya Fia, kan Fia nggak pernah bisa ngebalas cintanya Deo. Terus, ya … yang dulu-dulu itu deh Yo…” Fia memainkan ujung rambutnya.

Deo mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu. Sesaat, dia terbawa dalam lamunannya.

Ketika itu Jakarta sedang macet, maklumlah, jam pulang kantor. Deo terjebak macet di daerah Sarinah. Sembari menunggu, dia membaca materi presentasi untuk persiapan R U P S minggu depan. Bahkan disaat office boy pun libur, aku masih harus tetap bekerja di kantor besok, Deo memaki dalam hati. Betapa awal tahun yang sempurna.

Saat dia sedang mengoreksi materi presentasinya itu, tiba-tiba sebuah S M S masuk, dan wajahnya langsung berubah.

Deo lagi ngapain? Fia lagi sedih. Ken selingkuh ama cewek lain.
Yo, Fia gak tau harus ngapain.. Fia……
sender:
Dream (+6281120021984)

Refleks setelah membaca S M S dari tersebut, dia langsung berusaha menelpon Fia. Sial, mailbox! Deo mengumpat.

Konsentrasinya buyar. Dari belakang mobilnya terdengar suara klakson dan orang yang memaki. Perlu 3 detik sampai Deo akhirnya mengambil keputusan dan akhirnya menginjak pedal gasnya. Hanya ada satu tempat yang ada di pikirannya. Bandara.

Sesampainya di bandara, Deo langsung bergegas membeli tiket pesawat. Tak dihiraukannya lagi suasana yang sangat ramai di sekelilingnya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Biasanya Deo selalu menikmati saat-saat setelah check-in, sambil melepas lelah. Tapi tidak kali ini, seluruh proses yang harus dilewatinya terasa begitu menyiksa.

Sesampainya di Bandara Polonia, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Deo langsung menghubungi rumah Fia, dan ternyata persis seperti dugaannya, yang menjawab telepon adalah mamanya Fia. Setelah menutup flip handphone-nya, tanpa banyak berpikir Deo langsung masuk ke dalam taksi.

“Plaza Medan Raya, pak! Tolong cepat ya!”

Sepanjang jalan Gatot Subroto macet total, taksi yang ditumpangi Deo terhenti di sebuah menara jam besar di depan Yumi Plaza, tepat di simpang lima Glugur. Deo akhirnya memutuskan untuk turun dan berlari menerobos kerumunan orang.

Begitu tiba di halaman Plaza Medan Raya, Deo melihat lautan manusia. Dia tak tahu harus melangkah kemana untuk mencari Fia. Dalam kebingungannya, Deo memejamkan matanya. Dan entah bagaimana, ada semacam kekuatan yang mengarahkannya.

Hatinya bergetar, tak jauh di depannya dia bisa melihat Fia. Dia berjalan untuk mendekati Fia, tapi tiba-tiba, persendian lututnya terasa lemas, kakinya tak dapat bergerak. Seorang laki-laki memeluk gadis pujaannya, di depan matanya.

“Yo! Deo!” Suara Fia menyadarkan Deo dari lamunannya. “Aah, tu kaan, Fia ngomong gak didengerin … BT ah,” Fia merungut, “lagi ngelamunin apa sih?”

“Hehehe, nggak kok … Fia nanya apa tadi?” Deo mendehem.

“Duuuh, Fia nanya, setelah apa yang Fia lakukan ama Deo,” gadis itu menunduk, “kenapa Deo masih nungguin Fia?” Suaranya terdengar lirih.

“Deo nggak tau Fi … mungkin,” Deo menarik nafas dalam, “karena Deo nggak pernah bisa ngelupain Fia.”

Sunyi.

“Tapi Yo, apa Fia memang bener-bener … pantas untuk ditunggu?” Fia menyeruput ice cappucino-nya. “Gimana kalo ternyata Fia nggak pantas untuk ditunggu?”

“Berarti, gak ada wanita lain juga yang pantas untuk Deo perjuangkan. Dan mungkin, udah sepatutnya Deo hidup selibat aja.” Deo menatap wajah Fia dalam-dalam. Fia menunduk malu.

Deo mengeluarkan selembar kertas, dan meletakkannya di atas meja. Wajah Fia terlihat bingung, tapi dengan penasaran dibukanya juga lipatan kertas tadi. Sebuah puisi! Fia terkesiap. Dia membacanya perlahan.

suatu malam yang kuingat jelas,
aku sedang memandangi langit malam
menunggu bintang jatuh,
mencuri-curi saat untuk membuat sebuah permintaan

lalu aku melihatmu……

bayanganmu berpendar sejuta warna.
kau melesat secepat mahacahaya..

berliuk indah dengan penuh keanggunan,
menukik dengan sempurna..
lalu pecah menjadi jutaan titik kecil,
melukis langit dalam waktu beberapa detik.
dan seisi jagad raya terpana…

saat itu, aku melihatmu dimana-mana.

malam itu, aku jatuh cinta….

“Tuhan, aku ingin hidup dengannya..” hatiku yang berkata.

malam itu, 329 hari yang lalu.
dan hingga kini, tak ada yang berubah dalam setiap doa malamku…

Je t’aime, mon amour… toujours….

Deo terlihat seperti menunggu sebuah jawaban. Namun Fia diam saja, lama sekali. Sesaat kemudian, bibirnya tersenyum. Pipinya memerah.

Sunyi lagi. Diam berbahasa.

(to be continued………)

saya memilih untuk tidak memilih

Perkenalkan, nama panggilan saya Deo. Well, nama lengkap saya Deon Maxwell Plank, dan bagi kalian yang mengerti fisika, tentu akan tersenyum mendengar nama saya. Mungkin kalau ibu-ibu hamil biasanya ngidam mangga muda, ibu saya waktu sedang mengandung saya ngidam untuk ikut olimpiade Fisika.

Saya sebetulnya bukan Fisikawan, bahkan saya tidak kuliah di jurusan Fisika. Tapi saya suka dengan hal-hal baru, dan fisika kuantum menawarkan segalanya untuk saya.

Mungkin, beberapa dari anda sudah berkenalan dengan saya secara tidak langsung, bagi yang belum, mari kita berkenalan lagi. Nama saya Deo, kalau nama anda?

Baiklah, tidak usah basa-basi lagi ya. Saya ini sebetulnya orang yang sangat galau, mengalahkan galaunya seorang vokalis stereofoam yang terkenal sangat galau itu. Dan dari seluruh alasan kegalauan akan hidup ini, saya memilih yang paling sempurna; cinta.

Saya percaya bahwa tidak ada hal di dunia ini yang sempurna, dan tidak ada hal di dunia ini yang mutlak tunggal. Mencoba merujuk kepada konsep dualitas-nya Einstein walaupun dengan implementasi yang berbeda, semua hal memiliki lawannya masing-masing.

Begitu juga hati, begitu juga raga, begitu juga cahaya, begitu juga cinta.

Jika demikian, maka pilihan pun ada lawannya, jadi saya memilih untuk tidak memilih. Itu tidak salah kan? Karena tiba-tiba terkuak sebuah jawaban sederhana dari misteri yang begitu besar tentang alam semesta dan jagad raya ini.

Ternyata apa yang saya alami selama ini tidaklah mudah untuk dicerna, saya saja sulit mengerti, apalagi anda 🙂 Ternyata semua ini hanya fatamorgana, tak ada hal yang begitu nyata untuk bisa dipercaya, dan tak ada hal yang begitu mustahil untuk dapat dinafikan. Hidup ini harusnya dinikmati, bukan dijadikan benturan-benturan demi mengulangi teori big-bang yang tersohor itu.

Dan indahnya, teori big-bang itu sendiri dibentuk oleh 2 unsur. Materi, dan AntiMateri.

Begitu pula hidup ini, begitu banyak hal yang saya cintai. Tapi ada satu rutinitas yang saya paling tidak suka dalam hidup ini; tidur.
Memang, jumlah oksigen di otak akan menurun dengan drastis apabila kondisi tubuh sedang letih, lalu reflek mata akan terasa berat dan selanjutnya, menguap. Dan berbeda dengan hampir 99% seluruh ummat manusia yang menghuni bumi ini, ketika saya menguap saya tidak ingin untuk tidur, malah cenderung berusaha keras agar tetap terjaga, selama berhari-hari.

Sekedar informasi, rekor saya paling lama tidak tidur adalah 9 hari nonstop, tanpa tertidur sedetikpun. Rata-rata saya tidur 3 hari sekali, itupun kalau sudah terlalu banyak pikiran.

Saya benci tidur, karena di dalam mimpi saya memperoleh banyak jawaban. Jawaban yang selama ini saya cari, tentang dimana saya akan bisa berhenti berjalan, dan menikmati sisa hidup sambil sesekali menggubah beberapa bait puisi di pagi hari. Dan ternyata jawabannya terpampang jelas di dalam mimpi, bahwa tempat yang selama ini saya cari, ada di awal perjalanan.

Bukankah itu mengesalkan? Untuk apa berjalan jauh-jauh kalau akhirnya akan kembali lagi ke awalnya? Ataukah sebenarnya dari awal saya sudah tahu bahwa awal itulah yang akan menjadi akhir, tapi saya tidak mau mengakuinya? Itu bisa saja, karena toh saya sudah memilih untuk tidak memilih, bukan?

Ternyata, semua pertanyaan saya yang sangat kompleks tentang teori kosmik, paralelitas dimensi yang sebenarnya saling bersinggungan, dan –ini yang paling rumit dari semuanya– kemajemukan yang sebetulnya adalah tunggal, terangkum dalam sebuah jawaban sederhana..

Tepatnya, sebuah nama yang sangat sederhana.

Karena itulah saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya bermimpi tentang jawaban itu. Jawaban yang tidak pernah rasional jika dipikirkan bahkan jika dihitung dengan perkalian setingkat bilangan Quadrillion berkuadrat Quadrillion. Jawaban yang kelihatan sebesar alam semesta ini, tapi ternyata tak lebih besar dari unsur sub atomik paling kecil dengan satuan yocto. Jawaban yang batasnya tidak memiliki ambang, dan ambangnya tidak memiliki batas.

Sebegitu sulitnya kah untuk menerima cinta?

*** cukuplah sudah cinta ini dipaksakan,
*** nyatanya begitu nyata alurnya seperti ini..
*** betapa tidak adilnya mencoba untuk menafikan,
*** ketika kau begitu indah untuk dipahami…
***
*** tidak pernah sedetikpun aku tak mencoba,
*** mencoba memahami keindahan tanpa menjadi getir..
*** tapi ternyata apa yang ada tak pernah benar-benar ada,
*** sebagaimana butiran air di tengah gurun pasir…
***
*** sudah saatnya kita bisa mengerti,
*** bahwa cinta hanya bisa diterima dengan hati…

Maka lantas saya melatih otot-otot dan sistem saraf saya untuk melawan kodrat alam, seakan saya mengingkari bahwa raga ini milik Sang Maha Tunggal, yang ketetapanNya dituliskan dengan begitu anggun dengan penuh metafora –dan lagi-lagi dua hal yang berlawanan– matahari dan bulan.

Saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya memimpikan dia, dan saya menginginkannya untuk selamanya. Lalu dia akan selalu hadir di setiap depa dari seluruh jarak perjalanan saya.

Seumur hidup, percaya atau tidak, saya baru satu kali jatuh cinta. Dan celakanya, gadis ini tidak pernah mengerti kalau saya mencintainya. Saya memang tidak pernah bisa mengungkapkan kalau saya mencintainya, tidak pernah ada kesempatan, dan tidak pernah ada keberanian. Dan kini, sudah genap 8 tahun sejak pertama kali saya jatuh cinta dengannya, dan tetap, saya masih belum punya keberanian untuk menyatakan cinta saya kepadanya.

Bagi saya, cinta adalah sebuah konsep yang terlalu utopis untuk diwujudkan, karena tidak ada hal yang mutlak di dunia ini bukan? Begitu pula dengan cinta. Dan percayalah, dari semua kehilangan yang pernah dicatatkan dalam sejarah manusia, kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan.

Maka seumur hidup saya pula tak pernah berhenti belajar mengepakkan sayap, hanya untuk bisa terbang menembus awan dan melintasi jajaran bintang-bintang, lalu melesat secepat mungkin ke ujung semesta … hanya untuk melupakan cinta saya kepada seseorang yang nyaris sempurna, seorang Alifia Soraya.

Tapi jujur saja, bahkan di ujung semesta pun namanya masih terukir di jutaan bintang yang menghiasi angkasa raya. Lalu saya harus bagaimana?