Surat Untuk Cucuku…

Ketika engkau membaca surat ini, berarti malam ini jantungmu sedang berdenyut tak menentu, karena besok kau akan menikahi orang yang engkau cintai setengah mati. Mungkin kakek tidak akan bisa secara langsung memberikan petuah pernikahan, atau nasehat tentang bagaimana kau dan pujaan hatimu sebaiknya menjalani kehidupan kalian. Untuk itulah kakek menuliskan surat ini, sebagai ucapan selamat, permintaan maaf sekaligus sebagai sebuah wasiat.

Cucuku tersayang, karena saat ini kau sedang bersiap untuk menempuh bahtera baru dalam hidupmu, maka aku ingin menceritakan tentang sesuatu, sebagai kenangan bagimu, juga sebagai nasehat sekaligus pengalaman agar kau bisa belajar dari sejarah.

Read More

This Is My Story : The Sleepless Dreamer

Waktu masih SD, guru saya bercerita tentang Amerika. Diperlihatkan petanya, lengkap dengan fotonya. The dreamland, begitulah juluknya.

Someday, saya akan kesana, ujar saya. Boleh saja bermimpi, tapi harus realistis, kata beliau. Kala itu saya masih tujuh tahun, kata ‘realistis’ belum ditulis di kamus saya.

Tepat tujuh tahun lalu, saya memutuskan drop out dari kampus. Saya ingin membangun perusahaan sendiri. Modalnya cuma tekad; tanpa uang, apalagi gelar MBA.

Banyak orang yang tertawa sinis menanggapinya. Jangankan mendirikan perusahaan, dapat kerja yang layak saja sudah bagus. Mimpi di siang bolong, demikian vonis mereka.

“To those who can dream, there’s no such place as faraway.”

Read More

The Way You Look Tonight

(postingan sebelumnya: Mengunjungi Paman sam)

Berhubung saya adalah peserta “sisipan” yang bergabung di menit-menit terakhir, maka itinerary saya pun berbeda dengan Bang Enda, Dita, dan Mbak Rita. Saya mengambil rute yang berbeda dengan ketiga kolekha saya tersebut; saya tidak melewati Seoul. Pesawat dengan nomor JL-726 yang saya tumpangi langsung menuju Tokyo Narita International Airport. Ini juga artinya, sepanjang kurang lebih delapan jam perjalanan, saya akan sendirian, mengarungi gelapnya langit malam di luar, di pesawat yang dipenuhi dengan orang-orang yang bahasanya tak saya pahami. Delapan jam, menjadi orang asing, sendirian. Menyeramkan, jenderal!

Betul saja firasat saya, bahwa pilot dan awak kabin di pesawat itu akan berbahasa Jepang. Jika pun mereka berbahasa Inggris, maka saya sudah menyangka pronounciation-nya takkan jauh berbeda dengan rekan-rekan waktu saya masih kerja di sebuah perusahaan Jepang dulu; butuh kesabaran dan konsentrasi agak tinggi untuk memahaminya dalam sekali ucap.

Tapi mungkin, Tuhan tahu saya sedang gugup. Sampai saat pak pilot yang duduk di depan untuk memimpin pesawat agar baik jalannya mengisyaratkan bahwa pintu pesawat telah ditutup, dua bangku di sebelah saya masih kosong. Artinya, saya bisa selonjoran sampai Jepang. Ahoy!

Read More

Mengunjungi Paman Sam

Semua hal konon harus ada awalnya. Tak ubahnya sebuah skripsi yang pasti diawali dengan landasan teori, dan sebuah novel yang diawali dengan prolog, maka cerita pun ini diawali dengan sebuah telepon di malam hari.

“Mbak Dian USE”, demikian nama sang penelepon muncul di layar telepon genggam pintar –tapi sering lemot– milik saya. Mbak Dian yang cantik, baik hati, ramah dan murah senyum ini adalah salah seorang kolekha saya, yang bekerja di USE. Bukan, bukan Universitas Sumatera Eaaa, apalagi Uganda Security Exchange, melainkan United States Embassy.

Setelah mengobrol ngalor – ngidul – ngulon – ngetan, Mbak Dian mengundang saya untuk datang ke Pizza Mar**no malam itu. Loh, saya pun mulai bingung. Mbak Dian bertanya, apakah saya tidak mendapatkan undangan darinya yang dititipkan melalui seorang teman, dan saya katakan tidak. Saya katakan bahwa saya sedang di rumah, dan hampir tak mungkin saya bisa sampai kesana dalam waktu singkat, kecuali restoran itu telah membuka cabang di Medan.

Mbak Dian terheran-heran kenapa saya bisa ada di Medan, saya pun ikut heran kenapa tiba-tiba Mbak Dian mengganti marga saya. “Ini … Putra Nababan, kan?”, katanya penuh selidik, dan tawa saya pun meledak. Ternyata beliau salah dial, dan bermaksud menelpon news anchor yang terkenal itu.

Tak lama berselang –masih di minggu yang sama, Mbak Dian menelpon lagi. Kali ini dia bertanya apakah saya punya paspor, dan apakah saya punya waktu luang selama tiga minggu. Saya bilang jadwal saya selalu tentative; tergantung prioritasnya. Lantas saya tanya, kenapa Mbak Dian bertanya soal itu. “Putra mau ke Amerika, nggak?” katanya lagi.

Karena punya firasat bahwa Mbak Dian salah sambung lagi, dengan ringan langsung saya iyakan. Dia pun lantas meminta saya untuk meng-update CV saya dengan versi yang lebih baru, dan meminta saya untuk menunggu kabar darinya dalam beberapa hari. Saya yang masih ketawa-ketiwi mengikuti saja alur percakapannya, dengan sedikit perasaan geli, bagaimana mungkin ujug-ujug saya ditawari berangkat ke Amerika.

Tapi lantas, sebelum menutup telepon dan sebelum saya sempat berkomentar untuk mengingatkan soal salah sambung, dia bilang, “ini … Putra Nasution, kan?”.

NAH LOH! Berarti…?

Beberapa jam sebelum boarding menuju jepang

Read More

Guinness World Series of Pool

Ada yang menarik perhatian saya sejak sebulan yang lalu, yaitu waktu melihat iklan dan jadwal Guinness World Series of Pool. Sebagai seorang pencinta bilyar sejati, tentu saja saya tidak akan melewatkan event sebesar ini. Dan turnamen kelas internasional ini datang menyambangi Medan, pada tanggal 4 – 6 Juni 2010.

Bertemakan “Rise To The Challenge”, kompetisi ini dimaksudkan untuk menyaring pebilyar-pebilyar di kota-kota besar Indonesia, untuk kemudian bertanding melawan para juara dunia. Johnny Archer (2004 Florida Predator Open Champion–USA), Thorsten Hohmann (peringkat #6 dunia–Jerman), Mika Immonen (peringkat #1 dunia–Finlandia), Shane Van Boening (peringkat #11 dunia–USA), Alex Pagulayan (2008 World Pool Masters Champion–Filipina) dan tentunya pebilyar kebanggaan Indonesia Ricky Yang (peringkat #5 dunia–Indonesia).

Guinness World Series of Pool

Read More

Karena Kau Manusia…

Seluruh dunia terhenyak melihat tindakan brutal dan tidak berpri-kemanusiaan yang didemonstrasikan Israel dengan pongah, menembaki para aktivis dan relawan dari Freedom Flotilla di zona internasional. Seluruh dunia mengutuk, tapi mereka tak perduli.

Seakan bisa dimengerti, mereka katakan bahwa prajurit mereka diancam dan diserang. Ya, pisau lipat (entah benar atau tidak) yang ditunjukkan dalam rilis video berita sepihak mereka untuk dunia, dijadikan justifikasi untuk menembaki para aktivis sipil itu. Belasan wafat, dan puluhan luka-luka, demikian rilis berita sekunder yang juga tak yakin akan kebenarannya. Mungkin lebih, semoga saja salah.

Banyak yang mengutuk aksi biadab ini, ada yang mendukung, dan tak sedikit pula yang diam saja; entah karena skeptis, atau memang sudah tak perduli lagi. Yang jelas, ini tidak lagi melulu soal agama dan dogma. Ini sudah soal kemanusiaan; sebagaimana juga harusnya kita menyikapi aksi pembantaian yang sudah berlangsung di Gaza cukup lama.

Break the siege on Gaza!!!

Aku tahu; mengutuk, menulis dan memberikan protes–baik frontal maupun pasif–mungkin belum bisa memberikan hasil yang signifikan untuk menyelesaikan konflik di daerah ini. Tapi aku pasti, berdiam diri dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja, tidaklah lebih baik.

Read More

Jaman Dulu…

“Dulu, kakek mau sekolah itu susah. Harus jalan 10 Kilometer setiap hari. Mau belajar malam susah, karena cuma ada lampu teplok. Makanan pun cuma ada beras catu.”

Cukup familiar dengan kalimat di atas? Saya yakin, hampir semua orang lebih muda yang berbicara kepada orang lebih tua pernah mendengar kalimat ini, dengan berbagai macam variasi. Intinya, hidup jaman dulu itu susah.

Saya sering mendengus sebal kalau sudah berjumpa dengan situasi seperti ini. Jaman dulu ya dulu, sekarang kan hidup sudah berbeda?

Read More