Asean Blogger Conference (Bag. 1)

Perhelatan Konferensi Blogger Asean di Bali sudah hampir satu bulan berlalu. Banyak tanda tanya yang menyeruak–tentang substansi maupun tindaklanjutnya, namun banyak pula ide baru yang berpijar dari nama-nama yang mungkin awalnya terasa asing untuk beberapa telinga. Banyak tanda keletihan di wajah para blogger yang telah singgah di pulau dewata tanpa menikmati keindahannya, namun tak sedikit pula senyum menghiasi wajah-wajah asing yang kemudian menjadi sahabat.

Inilah cerita tentang sebuah kawasan yang sedang naik daun di mata Internasional, yang para pejabatnya sedang berbincang mengenai isu terkini, dan para pemuda penerusnya duduk bersama serta berjabat tangan untuk masa depan yang lebih baik.

UNDANGAN
Saya sedang bersiap diri untuk menghadapi salah satu peristiwa paling penting dalam hidup saya; menikah, ketika surat undangan itu sampai. Lae Nich bertanya apakah saya bisa berangkat, dan saya langsung menyanggupi. Setelah bertukar pikiran dengan calon istri, saya pun membulatkan niat untuk berangkat. Perhelatan ini sudah saya tunggu cukup lama, saya sangat bersyukur calon istri saya mau mengalah dan mengerti.

Maka berangkatlah saya tepat empat hari setelah saya menikahi gadis pujaan yang sudah saya tunggu 11 tahun lamanya. Saya tahu, takkan ada waktu untuk berwisata di pulau Dewata itu, tapi itu tak menjadi soal, karena tujuan saya datang memang untuk menyaksikan pembentukan sejarah, salah satu titik kebangkitan baru ASEAN.

Bersama FikryFatullah, seorang sahabat dan kolega bisnis, saya pun bertolak dari Bandara Polonia pada hari Selasa pagi. Kesibukan Indonesia yang sedang menjadi tuan rumah dari beberapa perhelatan internasional terlihat jelas dari demikian ramainya penerbangan di tiga bandara yang kami singgahi.

RAHAJENG RAUH
Setelah menempuh empat jam lebih perjalanan (ditambah beberapa jam transit di SOETTA), pesawat yang kami tumpangi pun mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai. Berlokasi di Kota Denpasar, salah satu bandara paling sibuk di Indonesia ini terlihat sedang berbenah. Ratusan–bahkan mungkin ribuan–tanda selamat datang terpampang disana-sini, menyambut para delegasi yang datang menghadiri KTT Asean 2011 di Nusa Dua.

Kami disambut langsung oleh salah satu official yang paling baik hati, Mbak Indah Juli, yang walaupun terlihat luar biasa capek tetap bisa tersenyum menyambut kami; sebuah senyuman bersahabat yang menyambut kedatangan kawan lama. Sebuah karangan bunga dikalungkannya ke leher saya dan Fikry, melengkapi teman-teman blogger lain yang sudah lebih dulu tiba. Sahutan senang dan jabat tangan pun langsung berangsur, melihat wajah-wajah familiar yang telah beberapa waktu tak bersua.

ULANG TAHUN BBC
Segera setelah check-in di POP! Hotel, saya pun bergegas menyimpan tas dan bawaan lainnya (yes, I am an over-prepared traveller, hehe) di kamar, dan langsung turun ke lobi untuk mingle bersama puluhan kawan-kawan blogger lainnya. Tak lama berselang, kakak-kakak panitia sudah memberi aba-aba untuk segera berangkat menuju acara pertama. APA? Harus segera naik bis? Saya kan belum man… Ah, untung saja masih punya modal inner handsomeness *plaakkk*.

Ternyata tempat yang dituju adalah Danes Art Veranda di bilangan Hayam Wuruk, Denpasar. Di gedung yang super keren ini ternyata sedang berlangsung acara ulang tahun ke Empat Bali Blogger Community. Tak kurang dari 200 orang blogger tumpah ruah meramaikan acara ini, termasuk kawan-kawan blogger delegasi dari negara lain. Dijamu dengan beragam makanan ringan, kopi dan teh, serta nasi Jenggo dan dikelilingi oleh teman-teman seperjuangan sungguh merupakan malam pembuka yang manis di Pulau Dewata.

Sekembalinya dari jamuan makan malam oleh BBC, malam sudah sangat larut dan mata pun sudah tak dapat diajak berkompromi. Setelah beberapa saat melepas rindu di udara bersama istri tercinta *uhuk*, saya pun segera mendarat di peraduan, sambil menganiaya remote TV dengan mata yang semakin meredup. Tak bisa tidur terlalu lelap, karena teman sekamar saya–seorang blogger dari Vietnam–belum juga sampai di Bali. Salah satu gesture yang cukup baik menurut saya dari kawan-kawan panitia, dengan menyusun roommate secara random, agar lebih mengenal dan akrab dengan kawan-kawan blogger lainnya.

Benar saja, kurang lebih pukul 02.00 WITA, Fickry mengetuk kamar. Disampingnya berdiri rekan sekamar saya yang sedang nyengir sambil meminta maaf karena sudah mengganggu kekhusyukan tidur. Anirudh, demikian dia memperkenalkan diri. Seorang advocate kelahiran India yang sedang bermukim di Vietnam. Saya yang awalnya sudah terlelap, akhirnya urung menarik selimut lagi, dan memutuskan untuk mencari oksigen tambahan [:merokok] di selasar lantai tiga, lantai kamar saya.

Saking asiknya ngobrol, saya lupa bahwa saya harus bangun pagi-pagi sekali, dan memimpin salah satu sesi diskusi. Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 4 waktu setempat, berarti tinggal dua jam jatah tidur saya yang tersisa. Ah, cukuplah untuk orang paling ganteng (menurut istri) seperti saya ini… #eaaa

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *