Kemarin, Satu Tahun yang Lalu

Waktu itu seragam kita masih abu-abu, rambutmu pun masih sebahu, sedang rambutku meniru Andy Lau kala itu.

Masa itu, kau masih punya kekasih, sedang aku anak band yang terlalu sibuk berbisnis, kalaupun masih punya waktu, lebih sering dihabiskan di gunung dan hutan. Surat-surat beserta puisi tanpa nama yang sering kutitipkan melalui teman sekelasmu itu memang seringnya ditulis di dalam tenda bivak nun di pedalaman, atau di puncak gunung yang dingin.

Bunga Edelweis yang sampai kepadamu pun hanya beberapa kuntum, tak seperti lelaki-lelaki lain yang menghadiahimu bertangkai-tangkai yang mereka beli. Bunga itu aku petik sendiri, walau cuma beberapa kuntum, karena kami sepakat untuk tidak menjarah alam.

Mendekati masa kelulusanku, kutinggalkan kau pergi mengejar mimpi ke Jogjakarta. Tanpa pamit, bahkan tanpa pernah usil menggodamu seperti pria-pria lainnya. Aku cuma mengamatimu dari kejauhan.

Tak sebentar waktu memisahkan kita, 11 tahun lamanya, tanpa ada komunikasi sedikitpun. Tapi lucunya, suratku masih kau simpan dengan baik, bahkan wanginya pun masih tetap sama. Kau bilang tak pernah benar-benar suka, tapi entah bagaimana surat itu tak berakhir di tong sampah seperti nasib surat-surat fans lainnya.

Dan bukan cuma satu kota yang kujelajahi. Nyaris hampir seluruh Indonesia, melebar ke Asia, bahkan jauh nun sampai Amerika. Tak satu pun getar hati memaksa untuk mensudahi gombalan-gombalan picisanku kepada para wanita-wanita itu. Cuma berlalu seiring waktu.

Cuma kau yang mampu. Cuma kau yang mampu…

Sekembalinya aku ke kampung halaman, kita berdua “diperkenalkan” lagi. Ada sedikit komunikasi, tapi cuma sebatas teks dan suara, selama setahun belum juga bersua. Kalau bukan karena adik kelas kita yang luar biasa itu, mungkin kita masih sama-sama saling gengsi, aku lelaki yang tak mudah jatuh hati, dan kau wanita yang tak mudah digombali.

Tapi setelah bertemu denganmu lah aku mulai menulis lagu lagi. Dengan hati. Tak perlu repot-repot mencari diksi.

Tanggal cantik 11-11-11 kita pilih untuk menutup status lajang di basisdata negara ini. 11 gram logam mulia sebagai tanda pengikat janji.

Aku tahu, aku bukan lelaki yang mudah untuk kau pahami, seperti kau bukan wanita yang mudah untuk begitu saja mengerti. Dunia kita sangat berbeda, tapi kita bisa saling merendah-tinggi.

Meski begitu, tak perduli panas atau hujan yang datang, badai atau tenang yang menghampiri, kau tetap ada di sisi. Dan cuma itu yang perlu diperhitungkan.

Sayangku, kemarin, satu tahun yang lalu, kupinang engkau dengan Bismillah. Dan hari ini, kukecup keningmu dengan Alhamdulillah.

Terima kasih sudah mewarnai hidupku yang hitam putih ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *