The Way You Look Tonight

(postingan sebelumnya: Mengunjungi Paman sam)

Berhubung saya adalah peserta “sisipan” yang bergabung di menit-menit terakhir, maka itinerary saya pun berbeda dengan Bang Enda, Dita, dan Mbak Rita. Saya mengambil rute yang berbeda dengan ketiga kolekha saya tersebut; saya tidak melewati Seoul. Pesawat dengan nomor JL-726 yang saya tumpangi langsung menuju Tokyo Narita International Airport. Ini juga artinya, sepanjang kurang lebih delapan jam perjalanan, saya akan sendirian, mengarungi gelapnya langit malam di luar, di pesawat yang dipenuhi dengan orang-orang yang bahasanya tak saya pahami. Delapan jam, menjadi orang asing, sendirian. Menyeramkan, jenderal!

Betul saja firasat saya, bahwa pilot dan awak kabin di pesawat itu akan berbahasa Jepang. Jika pun mereka berbahasa Inggris, maka saya sudah menyangka pronounciation-nya takkan jauh berbeda dengan rekan-rekan waktu saya masih kerja di sebuah perusahaan Jepang dulu; butuh kesabaran dan konsentrasi agak tinggi untuk memahaminya dalam sekali ucap.

Tapi mungkin, Tuhan tahu saya sedang gugup. Sampai saat pak pilot yang duduk di depan untuk memimpin pesawat agar baik jalannya mengisyaratkan bahwa pintu pesawat telah ditutup, dua bangku di sebelah saya masih kosong. Artinya, saya bisa selonjoran sampai Jepang. Ahoy!

Bidadari Cantik di Langit Malam.

Sebelumnya, coba saya ingat-ingat dulu keadaan sekeliling saya pada malam itu. Ada layar besar di langit-langit pesawat yang menampilkan peta digital untuk rute yang akan ditempuh; lengkap dengan temperatur, kecepatan, ketinggian, dst. Adapun jenis pesawat ini adalah Boeing 777, yang artinya ada sembilan kursi penumpang sejajar ke samping, masing-masing tiga seat dalam satu deret.

Setelah memperhatikan keadaan sekeliling, baru saya ngeh kalau ada seorang ibu muda beserta dua orang anaknya duduk di deret kedua (tengah); tepat di sebelah kanan saya. Yang paling besar adalah anak lelaki sekitar enam tahunan, dan adiknya, gadis kecil berkepang dua, taksiran saya masih di bawah dua tahun. Ini hanya perkiraan, karena si gadis kecil ini duduk berpangku dengan ibunya. Kursi satunya lagi diisi oleh seorang lelaki berperawakan agak “lebih”, yang saya ragukan adalah suaminya, karena dia tampak tak acuh dan lebih asik dengan headset-nya sendiri.

Saya tadinya ingin menawarkan bertukar tempat dengan ibu muda dan dua anaknya tadi ini. Bukannya sok atau gimana, tapi rasanya kurang pantas lah duduk berlapang-lapang, sementara mereka bertiga duduk berdempetan di dua kursi. Tapi ada sedikit masalah, mereka bertiga sudah tertidur, saya tidak bisa berbahasa Jepang, dan pesawat sudah akan berangkat. Duh.

Namun rupanya para pramugari yang ada di pesawat itu paham betul konsep customer service excellence. Mereka sepertinya mengutus perwakilannya yang paling (ehm) cantik untuk berbicara kepada saya. Dihampirinya saya dengan penuh keanggunan, lalu berhenti dan “semi” berlutut (iya, bukan membungkuk) tepat di sebelah saya. Bagai seorang bidadari dari surga dengan senyuman termanis dan suara lembut dia berujar, “Sir, if you don’t mind, would you please kindly exchange your seat with the three of them,” katanya sambil setengah menunjuk ke ibu muda dan anak-anaknya tadi.

Seketika itu juga saya merasa terintimidasi. Bukan, bukan karena keberatan untuk tukar kursi, apalagi karena diancam akan diturunkan di tengah jalan jika saya menolak, tapi karena dia mengingatkan saya pada idola masa kecil yang menjumpai saya setiap minggu seusai mandi sore. Dia, mirip dengan Oshin, minus baju kimono, tentu saja. “I’d love to,” kata saya dengan senyuman termanis yang saya punya, sedikit sesak nafas.

“Thank you, it’s very generous of you,” katanya sambil beberapa kali mengangguk berterima kasih khas orang Jepang. “I’ll come back to you as soon as we finish our take off,” katanya sambil menyentuh bahu saya pelan. Entah kenapa tiba-tiba rasanya kabin semakin sempit, dan oksigen yang ada di kabin seperti semakin menipis.

Begitu pesawat sudah stabil di udara, sang pramugari cantik pun datang dan kembali meminta kesediaan saya untuk pindah. Lalu dia kembali mengulangi gesture terima kasihnya sambil beberapa kali mengucapkan ‘arigato ghozaimasta’, demikian juga dengan si ibu muda tersebut. Ah, orang-orang ini terlalu sopan, pikir saya. Dengan tersenyum saya pun menjawab, “kokorono to mo watashiwa Indomi gasuki omaha wa ana uhibbuka” (terjemahan bebas yang terlalu bebas: “Tak perlu lah berterima kasih untuk sebuah kewajiban”) #ngawur

Saya pikir perasaan terintimidasi oleh si pramugari cantik tadi sudah usai, namun saya salah. Setengah jam berselang dia kembali datang dan berlulut di samping kanan saya. “I, personally, and the rest of the Japan Airlines crew would like to thank you for your kindness,” katanya, sambil menyerahkan sebuah goodie bag untuk saya. “Is there anything else that you need, sir?,”  masih dengan senyuman termanis yang semakin mengintimidasi. Saya menggeleng grogi.

Tadinya sih saya ingin menanyakan namanya dan minta nomor handphone, tapi berhubung biaya SLI Indonesia – Jepang pasti lah mahal, saya mengurungkan niat. Wahai bidadari Japan Airlines, jika kita memang berjodoh, kita pasti akan berjumpa lagi suatu saat di masa depan… #menatapgalaukelangit

LCD TV 7” yang ada di depan saya lengkap beserta remote-nya pun jadi tak terlalu sophisticated lagi. Suara Frank Sinatra pun mengalun dari headphone saya, menyanyikan The Way You Look Tonight, mengantarkan saya tidur dengan senyum terlebar dan hati yang ketar-ketir.

(to be continued…)

14 comments

  1. ableh · October 11, 2010

    ealah… jauh-jauh ke jepun nontonnya TV 7 … bukannya trans7 sekarang? eh salah baca ya saya =))

    *nice post anyway

  2. christin · October 11, 2010

    poet… kamu inget kan tapi mesti lanjut ke amrik? jangan2 mau ngikut mbaknya terus 😆

  3. Ods · October 11, 2010

    Isi goodie bag nya apa?

  4. enda · October 11, 2010

    Nice writing put 😀

  5. Adham Somantrie · October 11, 2010

    we. want. more.

  6. nonadita · October 11, 2010

    Mana foto pramugarinyaaaaa?? No pic means hoax, dude :))

  7. poetra · October 11, 2010

    Sambit @ableh pake mouse :))

    @christin:
    tadinya sih hampir nyasar di Jepang, hihihi… Untunglah lancar jaya, walaupun dengan perasaan berat hati (“,)

    @ods:
    Isi goodie bag-nya miniatur pesawat Japan Airlines sama kartu remi special edition 😉

    @enda:
    thank you, bang 🙂

    @Adham Soemantrie:
    harap sabar dan tetap di antrian ya, mas :p

    @nonadita:
    diiit, aku tuh waktu itu sesak nafas dan grogi to the max. Mana sempat aku poto-poto dia 🙁 #penuhpenyesalan

  8. venus · October 17, 2010

    i envy you. and hate hate hate you for not sending me the ashtray you promised me the other day. LOL

  9. poetra · October 17, 2010

    @venus:
    Aku masih simpan kok, mbok, nanti kalo aku jadi dateng ke PB aku bawa 🙂

  10. aldi · October 18, 2010

    hahahaha…

    tapi keren ya?
    ngasi korsi doank dikasi goodie bag
    …… mungkin ada cipika-cipiki dgn yg menawarkan tadi jangan2?

  11. Nisa hD · October 26, 2010

    udah habis bang ceritanya?

    *penonton kecewa.. 🙁

  12. poetra · October 26, 2010

    @aldi:
    Itu dia yang membuat berkesan –goodie bag-nya, bukan cipika-cipiki, yang ini sudah pasti nggak ada lah, haroom, hehe), tapi gimanapun kan memang itu sudah jadi kewajiban, kan? 🙂

    @Nisa:
    Belum abis, Nis. Kan masih bersambung. Insya Allah nanti kalau sudah sehat dan bisa menulis panjang lebar lagi, pasti ada sambungannya 🙂

  13. Billy Koesoemadinata · February 21, 2011

    baru baca postingan ini, dan.. sepertinya de javu..
    *keinget waktu ‘dibuang’ ke china dulu* 😀

  14. dWi · June 9, 2011

    ngebacanya jadi ikut2an sesak napas *sigh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *