Mengunjungi Paman Sam

Semua hal konon harus ada awalnya. Tak ubahnya sebuah skripsi yang pasti diawali dengan landasan teori, dan sebuah novel yang diawali dengan prolog, maka cerita pun ini diawali dengan sebuah telepon di malam hari.

“Mbak Dian USE”, demikian nama sang penelepon muncul di layar telepon genggam pintar –tapi sering lemot– milik saya. Mbak Dian yang cantik, baik hati, ramah dan murah senyum ini adalah salah seorang kolekha saya, yang bekerja di USE. Bukan, bukan Universitas Sumatera Eaaa, apalagi Uganda Security Exchange, melainkan United States Embassy.

Setelah mengobrol ngalor – ngidul – ngulon – ngetan, Mbak Dian mengundang saya untuk datang ke Pizza Mar**no malam itu. Loh, saya pun mulai bingung. Mbak Dian bertanya, apakah saya tidak mendapatkan undangan darinya yang dititipkan melalui seorang teman, dan saya katakan tidak. Saya katakan bahwa saya sedang di rumah, dan hampir tak mungkin saya bisa sampai kesana dalam waktu singkat, kecuali restoran itu telah membuka cabang di Medan.

Mbak Dian terheran-heran kenapa saya bisa ada di Medan, saya pun ikut heran kenapa tiba-tiba Mbak Dian mengganti marga saya. “Ini … Putra Nababan, kan?”, katanya penuh selidik, dan tawa saya pun meledak. Ternyata beliau salah dial, dan bermaksud menelpon news anchor yang terkenal itu.

Tak lama berselang –masih di minggu yang sama, Mbak Dian menelpon lagi. Kali ini dia bertanya apakah saya punya paspor, dan apakah saya punya waktu luang selama tiga minggu. Saya bilang jadwal saya selalu tentative; tergantung prioritasnya. Lantas saya tanya, kenapa Mbak Dian bertanya soal itu. “Putra mau ke Amerika, nggak?” katanya lagi.

Karena punya firasat bahwa Mbak Dian salah sambung lagi, dengan ringan langsung saya iyakan. Dia pun lantas meminta saya untuk meng-update CV saya dengan versi yang lebih baru, dan meminta saya untuk menunggu kabar darinya dalam beberapa hari. Saya yang masih ketawa-ketiwi mengikuti saja alur percakapannya, dengan sedikit perasaan geli, bagaimana mungkin ujug-ujug saya ditawari berangkat ke Amerika.

Tapi lantas, sebelum menutup telepon dan sebelum saya sempat berkomentar untuk mengingatkan soal salah sambung, dia bilang, “ini … Putra Nasution, kan?”.

NAH LOH! Berarti…?

Beberapa jam sebelum boarding menuju jepang

Setelah telepon yang terakhir itu, semuanya rasanya seperti mimpi. Beberapa hari kemudian, Mbak Prima (juga salah seorang staf USE Jakarta) menginformasikan saya agar datang ke kedutaan Amerika untuk wawancara VISA. Dan hari itu juga saya tahu secara resmi bahwa nama saya sudah dinominasikan ke Washington DC, dan apabila tak ada aral melintang –dan kalau VISA saya disetujui, maka saya akan berangkat ke Amerika minggu depannya.

Tepat satu hari sebelum ulang tahun saya yang ke 27, VISA saya pun disetujui. Maka berangkatlah saya ke Jakarta pada tanggal 30 Juni untuk pre-departure briefing, sebelum akhirnya terbang ke Amerika pada tanggal 1 Juli 2010. Demikianlah kado ulang tahun paling berkesan dalam hidup saya: diundang untuk berkunjung ke Amerika.

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

Semua proses keberangkatan saya ke Amerika sangat cepat, dan (sekali lagi) terasa seperti mimpi. Hanya perlu waktu dua minggu untuk mengurus semuanya –dari mulai nominasi sampai keberangkatan, bahkan saya baru tahu nama program dan detailnya H-1.

IVPL on NewMedia, demikianlah kurang lebih judulnya. Bersama dengan bang Enda Nasution, Nona Dita dan Mbak Rita Uli Hutapea (jurnalis Detik, foreign affair) kami menyambangi negeri Paman Sam itu selama tiga minggu. Tiga blogger dan satu jurnalis, belasan international airport (ada 10 untuk saya), delapan negara bagian, belasan koper dan tas, serta belasan kota, ditemani dengan salah seorang ELO yang kemudian menjadi sahabat baik kami, Serge namanya.

koper-koper itu...

Begitulah, tiga dari kami (saya, bang Enda dan Dita) juga berulang tahun secara berturut, dan seolah mendapat kado ulang tahun yang sangat spesial tahun ini. Ada banyak pengalaman berharga; perjumpaan dan perkenalan dengan orang-orang yang jenius; puluhan (mungkin malah seratus lebih) kawan baru, pola pandang baru, ide-ide baru, dan masih banyak hal lain yang kami dapatkan melalui program ini.

Enda - Dita - Rita - Putra

Kunjungan ke negeri Paman Sam ini akan saya tulis di postingan-postingan berikutnya, di frekwensi dan gelombang yang sama. Dan secara personal, saya sangat berterima kasih atas kerja keras dan waktu dari orang-orang yang terlibat dan mewujudkan program ini: Mbak Dian (you’re the best, mbak! 🙂 ), Mbak Prima, Mbak Sita, para staf USE Jakarta lainnya, para staf Meridien International, tak lupa pula Charless Kellet (we won’t make it with out your help, Charlie 🙂 ),  dan tentu saja Serge.

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”, demikian tulis seorang Andrea Hirata. Dan tidak pernah saya tak mengamininya, terlebih lagi sekarang…

33 comments

  1. @umenumen · August 8, 2010

    Bermimpi memang sungguh indah, terlebih ketika kita meneguk manisnya mimpi. Dan berkat mimpi itulah saya pun menjelajah ujung Afrika di bulan yang sama, Juli.

  2. ichanx · August 8, 2010

    oleh-oleh! tiada oleh-oleh, berarti tidak khaffah ke amerikanyah!!!!

  3. nonadita · August 8, 2010

    Waks keduluan posting!

    Itu pemilihan blogger2nya bukan berdasarkan tanggal ulangtahun kan? Kok pas-pasan bener ya kita bertiga ulangtahunnya berdekatan :mrgreen:

  4. galeshka · August 9, 2010

    sekali ini setuju dengan @ichanx

    OLEH-OLEH! TIADA OLEH-OLEH, BERARTI TIDAK KHAFFAH KE AMERIKANYA!!!!

    *ps: capslock gak rusak koq, hanya memberikan penekanan*

  5. christin · August 9, 2010

    Senangnyaaaaa \o/

    Senang jalan-jalannya dan pasti lebih senang lagi pengalamannya yaaa

  6. dedi · August 9, 2010

    wao….
    kapan ya aku bisa kesana?!

  7. Juminten · August 10, 2010

    Itu mesti masih salah sambung!
    Mungkin nomermu ketuker sama nomerku, put. *ngarep*
    Btw, aku msh ga terlalu ngerti.
    Jd kamu diundang dlm rangka apa?
    Ditunggu di postingan berikutnya, ya.
    Hihihi… 😛

  8. zee · August 10, 2010

    Ya ampun Putra enak benerr.r..
    Dalam rangka apa kesana Put.

    Bener2 ya, Tuhan memeluk mimpi kamu…

    Tapi bener gak, sapa tahu salah sambung kemarin itu gak :D..

  9. Arham Blogpreneur · August 10, 2010

    MAs nitip oleh oleh dong.. masih disana kan:D minta repelika obama kaqlau ada 😛

    Btw dalam rangka apa ya iPoet kesana?

  10. hanny · August 10, 2010

    put, kata si dian lo “laki’ banget, karena dalam waktu singkat langsung bisa berangkat :)) dengan persiapan yang gubrak-gabruk hihihihihihi.

  11. dobleh yang malang · August 10, 2010

    wah pasti menyenangkan y jika bisa kesana terus………heheh
    salam hangat dari blue

  12. Nona Nieke,, · August 10, 2010

    wah, asiknyaaa! 😀
    jadi pengen bermimpi juga 🙂 *berharap ada org yg berbaik hati jg yg tlpnin* xD
    pantes pas liat tempat2 check in mu di 4sq aku pikir lg becanda, bang 😀

    btw, iya aku jg masih blum ngerti dalam rangka apa? ini masih ada hubungannya dgn yg Golden Ticket jg ga sih?

  13. thuns · August 10, 2010

    gubrakz…. lama gak walking2… ternyata dirimu bikin diriku mupeeeeeng…
    mantab bro….! btw… mana nih oleh2nya… hahaha…

    btw lagi… dlm rangka apakah ini? apa hanya sekedar hadiah ultah??? masih bingung gw…

  14. infoomatic · August 10, 2010

    wah mas.. enak nih bisa ke amrik.. bisa dititipin iPhone 4 gak ya.. 😀

  15. aam · August 10, 2010

    jiakakakakakak……….
    Putra Nababan = Putra Nasution???
    gantengnya aja beda…

    ntah siapa meniru siapa nih namanya.
    yang pasti mulai saat ini klo aku mau nelpon kawanku yang namanya Putra aku harus extra hati-hati.

    BTW : *ehem* oleh2 hanheald nya boljug tuh…..
    :p

  16. Rian · August 11, 2010

    Mantap. ternyata menanamkan sebuah mimpi itu bisa jadi nyata !!! keren

  17. jasmine · August 15, 2010

    weh,mantap nian pergi jalan2 ke sana mas,ada rencana mau kemana lagi nih?kapn2 ikut nah,haha

  18. nonadita · August 15, 2010

    duh ini mau komen aja disuruh belajar matematika dulu cih!

    belon sempet posting lagi puuutt? =))

  19. za · August 17, 2010

    Semoga mimpiku buat akhir tahun ini juga terwujud ^_^

  20. ikez · August 18, 2010

    teuteup ya bok, Marlboro Lights masuk foto ;p

  21. melontea · August 20, 2010

    eh… terus gimana nasib Putra nababan? dia jadi ke amerika bareng km?
    karena penasaran aku tunggu update selanjutnya.

    btw kamu masih ngeblog ya ternyata… udah lama gak blogwalking haha

  22. Kurology · August 22, 2010

    holy…

    salah sambung dan berujung dikirim ke amrik 😐

    kalo bisa gitu, saya pengen dikirim ke inggris atau yaman saja lah :3

  23. tary-ssi · September 1, 2010

    wahhh inginnya seperti dirimu, jadi inget film sang pemimpi. heheheh
    mulai skr aku pengen juga bermimpi mumpung gratis 🙂

  24. aldi · September 14, 2010

    1 kata .. WOW
    2 kata.. kok bisa?
    3 kata.. ada oleh-oleh?

  25. Pingback: Poetra Nasution – Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh » Blog Archive » The Way You Look Tonight
  26. Adham Somantrie · October 11, 2010

    dan aku masih bertanya-tanya… apakah benar kedua nasution itu pada akhirnya membuat grup vokal untuk menyaingi the sisters?

  27. nonadita · October 12, 2010

    @ Adham: yah begitulah, sepertinya sebentar lagi akan keluar album Nasution Bersaudara :mrgreen:

  28. Nisa hD · October 26, 2010

    bang,, cerita selanjutnya mana lagi?

    Penasaran:On

  29. Lydia agustina · October 29, 2010

    hay salam kenal mas putra
    saya Lydia dr STIKOM LSPR kemarin
    wow kata-katanya “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”
    sangat inspiring skali… karena masih banyak orang di luar sana yang masih takut untuk bermimpi…
    Padahal mimpi itu samadengan motivasi diri kita untuk ke depan.

  30. Lydia agustina · November 1, 2010

    hay mas putra makasii ya waktu di obsat udah ramah banget, makasi juga udah mau foto bareng.. sukses trs blognya ya mas.. salam kenal..

  31. poetra · November 4, 2010

    Salam kenal juga, Lydia. Nice to met you too the other day 🙂

  32. Pingback: Langkah Pertama di Amerika | nonadita
  33. Pingback: Poetra Nasution – Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh » Blog Archive » This Is My Story : The Sleepless Dreamer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *