Memahami Dua Puluh Enam

Meninggalkan jumlah seperempat abad membuat banyak pemikiran timbul di kepala. Pemikiran mengenai –ehhmm– pernikahan, kehidupan di masa depan, kebahagiaan, dan seterusnya, dan lain-lain.

Aku mengerti lazim bahwa orang akan dengan sangat senang hati “memojokkan” pada bujang lapuk di usia sebegini, dengan tanpa perasaan berdosa dan mengalir selepas tiupan angin yang menusuk tulang di malam hari, “kapan mau menikah?”

Kalau saja memaki itu bukan dosa, apalagi kepada orang yang lebih tua, sudah tentu akan kumaki mereka sepuas hati. Karena pertanyaan itu akan menempatkan aku diposisi bersalah, seakan-akan akulah yang memilih untuk tidak menikah secepatnya, dan seakan-akan menikah itu semudah membeli ikan di pasar. Padahal mereka lupa, membeli ikan saja harus dipilih-pilih dengan hati-hati, apalagi calon pasangan hidup.

Toh mereka juga tidak tahu bahwa aku baru saja patah hati lagi, tepat sehari sebelum berulang tahun. Mereka tidak tahu, sepantasnya tidak perlu tahu, dan aku pun tak mau bercengeng-cengeng lagi sambil mengeluarkan curahan hati yang diakhiri dengan pertanyaan –yang tak pernah terjawab, “kenapa…?”

Read More