Anomali Dalam Orientasi Hati

Sekeluarnya dari ruang gelap yang biasa memutar berjuta frame dengan resolusi tinggi itu aku tercenung. “The Day the Earth Stood Still” judulnya, yang dengan sangat terlambatnya sampai ke bioskop kota kecil ini. Mau bilang apa, ya terima saja.

Film itu bagus, dengan sudut penceritaan yang agak outstanding walaupun temanya sudah agak mainstream; setidaknya bagi para pencinta sinema. Tapi kurasa tak perlu lah dibahas bagaimana jalan ceritanya, tinggal arahkan saja peramban situs favorit kalian ke situs pencari sejuta umat.

Masih di tempat yang sama, aku perhatikan film-film lain yang diputar di studio-studio lainnya. Soal hantu, soal cinta, soal komersialisasi tubuh yang dibungkus komedi; ah tak ada yang menarik. Tinggal tunggu waktu saja sampai cerita soal kisah cinta remaja hantu yang seksi dengan judul “Susahnya Jadi Hantu 9”.

Oh, tapi tunggu dulu, bukannya Kiki Fatmala sudah menjadi trend-setter topik sejenis di masanya ya?

Read More

Menghakimi Huruf dan Spasi

Bebaskan Ibu Prita!!!

Aku memang tak berarti, tapi bukan berarti aku mati. Walaupun aku hanya remah-remah kecil dunia diantara keangkuhan dan megahnya istana kalian, tapi aku masih sanggup berdiri tegak dengan penuh percaya diri.

Oh, sudah gilakah dunia ini? Tertutupkah mata hati sehingga tak lagi bisa mengerti?

Sebait kata aku teriakkan samar, ungkapan kegelisahan dan dorongan saraf yang membengkak di badan. Sebait kejujuran dalam huruf dan spasi yang kemudian aku mereka adili.

Oh, salahkah hati kecil ini kalau merasa tersakiti? Tak ada kah lagi ruang untuk berbicara jujur tanpa harus dibui?

Terasing aku diantara ramainya hiruk-pikuk ketidakadilan, merangkak dengan letih dan terseok demi menghentikan tangis anakku yang ingin disusui.

(Sebuah dedikasi untuk Ibu Prita Mulyasari. Jangan takut, kami tidak tuli, bu…)