Menggila Menanggung Rindu

Kugenggam terus tanganmu, Nascya
kau peluk aku, bersandar manja
aku mengerti jalan waktu cepat terasa
tapi coba pejamkan mata,
kubawa engkau mengunjungi syurganya dunia

Kupandangi matamu semakin lama
jawaban disana kutahu tak ada
mataku pun basah, tapi entah mengapa

Read More

Ketika Hidup (masih) Mudah

Berbulan-bulan sudah saya tidak merasakan kegelisahan. Perasaan itu sudah saya kubur lama, jauh-jauh, di kerak bumi paling dalam sana. Pergi, dan menghilanglah! Begitu mantra saktinya. Masalah datang dan pergi, dan saya tahu itu adalah makanan manusia paling utama, melebihi pangan lainnya. Tidak ada manusia yang tidak memiliki masalah. Tidak ada.

Berkali-kali juga sudah teman datang dan pergi. Friends come and go, begitu katanya. Saya yakin itu. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Tidak ada kebahagiaan yang tidak berakhir. Dan seterusnya, dan seterusnya. Iya, haqqul yaqin.

Read More

Antara Setan, Santet dan Infra Merah

Tadi malam selepas magrib, saya dan mentor bisnis saya sedang berbicara ngalor ngidul tentang betapa anehnya negeri tercinta ini. Saya memang akrab dengan beliau, dan saya sudah kenal lama, sehingga boleh dibilang kami tak memiliki batasan dalam berdiskusi, walaupun usia kami terpaut cukup jauh. Selain itu, beliau juga adalah senior saya di SMA.

Lalu di tengah perbincangan, masuk sebuah telepon. Suaranya langsung merendah, dan saya langsung mafhum bahwa yang menelepon adalah istrinya, yang adalah teman saya satu angkatan di SMA. Namun tak berapa lama kemudian, mentor saya ini tertawa cekikikan, dan untunglah tidak dengan cara yang menakutkan, haha.

Setelah menutup teleponnya, dia lantas menjelaskan. Bahwa saat ini di Medan sedang heboh sms mematikan. Saya langsung mengernyitkan alis, dan membatin penuh pertanyaan. Sms mematikan? O.M.G, fenomena apalagi ini?

Read More

Masih Berbudayakah Kita?

Sebagai seorang yang berdarah melayu deli, sejak kecil pun saya sudah terbiasa mendengarkan lagu melayu. Sebut lah salah satunya Puteh Ramlee yang sampai sekarang pun saya masih suka sekali menonton film dan mendengarkan lagu-lagunya. Sedari kecil pula saya senang sekali menonton siaran TV3 dan TV1 yang memang tertangkap dengan bersih di TV rumah saya. Titian muhibah tentunya tidak akan saya lewatkan.

Tetapi, rasanya belakangan ini isu Indonesia – Malaysia semakin memanas. Sudah berapa kali kita bermasalah dengan malaysia? Sering sekali ya memang. Dari masalah kecil-kecilan, sampe mau diserang dan perang. Dari cuma sekedar flaming di internet, sampai mau mengirimkan bala tentara. Dari masalah perbatasan negara, sampai Blok Ambalat. Aduh 🙁

Yang paling saya sedihkan adalah, mereka menyebut kita “indon”, lantas kita pun menyebut mereka “malingsia”. Julukan terakhir benar-benar berkibar setelah kejadian lagu “Rasa sayange” yang diakuisisi secara semena-mena.

Beberapa hari yang lalu hangat kembali di salah satu media tentang lagu “Bintang Kejora” dan “Abang Tukang Bakso” yang diberi sentuhan baru –begitu menurut pengakuan pencipta lagu Aspalela yang memang meniru dua lagu sebelumnya. Selain itu, cobalah bermain-main ke situs resmi pariwisata mereka, maka kita beberapa kali akan merasa dejavu.

Read More