Atas nama seni…

Lagi gak produktif sama sekali, bahkan untuk mikir pun males. Jadi, lebih baik mempublish tulisan-tulisan lama sekali (hehe) yang masih bertumpuk di meja redaksi. Memang, masih kasar gitu karena namanya juga masih draft. Tapi biarkanlah.

Oh iya, untuk yang comment soal postingan lalu, dan juga teman-teman saya yang menasehati saya untuk tetap sabar dan merelakan dia pergi, saya baik-baik saja kok, dan saya sudah merelakan dia sejak menit pertama. Sungguh.

Hanya saja, saya jadi ingin menguji teori, seandainya saja kondisinya berbalik; saya yang meninggalkan pacar saya demi seorang gadis yang lebih cantik dan lebih muda, apakah tindakan saya masih bisa dicap wajar dan disikapi dengan permisif –sebagaimana teman-teman menyikapinya– atau saya akan disebut sebagai buaya darat (seperti biasanya)?

Nevermind, gak usah dijawab juga. Saya sudah tau juga jawabannya 🙂

Well, postingan ini ditulis March 21, 2006 at 12:04 am. Mungkin masih berhubungan sama kasus yang lagi semarak saat ini 😀
Read More

Ahmadiyah; Sebuah Tanggapan

Di dalam Islam, sebenarnya sejak jaman dahulu telah banyak terjadi perbedaan dalam golongan dan aliran yang ada. Dan hingga kini pun, ada bermacam golongan dan aliran yang biasanya memiliki beberapa perbedaan pendapat, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ada yang menyebut diri Sunni, ada pula yang Syi’ah. Kaum Sunni sendiri terbagi-bagi lagi pada pengikut Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Hambali. Demikian juga kaum Syi’ah. (Untuk referensi lebih lengkap mengenai mazhab, silahkan membaca tautan ini).

Namun demikian, perbedaan yang ada biasanya (dan seharusnya) hanya perbedaan dalam tataran fiqih, karena jika perbedaannya ada dalam tataran tauhid, selayaknya dan sepantasnya golongan tersebut tidaklah merupakan bagian dari Islam lagi. Sebagai contoh adalah kasus Al Qiyadah yang terang-terangan mengakui Mosadeq sebagai nabi dan rasul.

Dan siaran berita beberapa hari ini kembali diramaikan dengan pemberitaan mengenai Ahmadiyah. Sejujurnya, saya sangat miris mengikuti pemberitaan yang ada, dengan adanya tindak kekerasan yang dialami oleh anggota jemaat Ahmadiyah. Apapun alasannya, negara kita adalah negara hukum, dan hukum jalanan bukanlah sesuatu yang diakui di negara ini.

Sebagai seorang Syafi’iyah, sedari kecil saya mendapat pendidikan agama dari Al-Washliyah. Dan sedari kecil pula saya terbiasa mempelajari perbedaan-perbedaan golongan dan aliran yang ada. Namun demikian, saya tahu saya tidak memiliki cukup kompetensi untuk mengukur mana yang paling benar, sehingga mengenai Ahmadiyah sendiri, saya akan berada di dalam zona abu-abu. Mengapa demikian?

Read More

Melambaikan Tangan Dan Melangkah Pergi

Cuaca Jakarta sedang tidak ramah beberapa hari belakangan ini, bahkan cenderung muram seperti sedang menyimpan sebuah kesedihan yang tak terungkapkan. Ditatapnya lagi langit sore Jakarta yang sedang mendung, dan dia seperti dapat merasakan bahwa mereka sedang berkomunikasi. Awan hitam yang menggelayut di langit magrib keemasan itu seperti sedang mencoba berbicara kepadanya.

Sudah tiga hari pula ia tak berinteraksi dengan manusia nyata. Mungkin tidak sepenuhnya tiga hari, jika menjawab salam mbak Nani –asisten rumah tangganya– yang baru saja tiba, terhitung sebagai interaksi sosial langsung. Selebihnya, ia lebih banyak berdiam diri, dan menutup rapat-rapat telinganya sambil mendengarkan lagi-lagu yang menggambarkan perasaan hatinya.

Tepat ketika JA Verdianto menyanyikan “Hanya tinggal kita berdua”, sms tersebut masuk ke telepon genggamnya. Dilihatnya jam di dinding, sambil menghela nafas berat. Sms tersebut dikirim empat jam yang lalu, dan baru ia terima saat ini. Betapa operator telekomunikasi saat ini tidak mengenal lagi istilah customer satisfaction, hanya atas nama menyedot pelanggan sebanyak-banyaknya dengan tarif yang menyesatkan.

Namun seketika matanya terpaku kepada beberapa baris kalimat yang tertera di layar. Kekesalannya tidak lagi tertuju kepada operator, dan sejujurnya ia tak tahu harus kesal kepada siapa. Dibacanya lagi kata demi kata yang ditujukan kepadanya tersebut berulang kali, berharap ia salah membaca. Atau jika dibaca berkali-kali, mungkin kalimat tersebut akan berubah makna. Tapi tidak, kalimat itu tetap sama… Read More