Para Penganut Tren Sesaat

Kemarin abang saya nyeletuk, “blog temen-temen kita dulu sekarang banyak yang udah banyak yang mati ya?” Saya tersenyum kecil sambil menjawab, “iya, udah tua mungkin, jadi banyak yang udah pensiun.” Kami lalu terkekeh sambil bercerita dan bernostalgia.

Semuanya berawal ketika saya pindah ke Jogjakarta untuk kuliah di sebuah universitas pada pertengahan tahun 2001. Saya yang sedari SMP sudah terbiasa menghabiskan setidaknya enam jam di depan komputer, berkeinginan kuat untuk mendalaminya dengan mengambil jurusan teknik informatika. Ketika akhirnya saya menghabiskan hampir seluruh waktu saya di depan komputer, secara otomatis social life saya pun berkutat hampir seluruhnya di dunia maya.

Jogjakarta boleh dikatakan memiliki fase penting pertama dalam kehidupan saya, tapi mungkin lebih baik kalau saya bahas lain kali saja. Awalnya adalah kecanduan saya terhadap internet yang memperkenalkan saya dengan banyak orang penting dalam hidup saya, salah satunya adalah kakak angkat saya yang kemudian menjadi teman susah bersama ketika itu; Kang Astho. Masa ini dikenal dengan masa kegelapan, dimana bugs apache masih sangat baru, dan bermain dengan exploit adalah hal yang menyenangkan. Hahaha.

Read More

Misteri Bernama Masa Depan

Seolah terkungkung dalam pemikiran sendiri, belakangan ini saya merasa semakin autis saja. Hari-hari saya beberapa minggu terakhir lebih banyak diisi dengan merenung, mempola (tidak.. saya tidak belajar menyulam atau bordir payet), dan membangun sebuah dunia yang diisi dengan banyak kemungkinan, dan masing-masing kemungkinan berusaha menyelesaikan masalah sebaik mungkin.

In short, I’m playing god in my mind.

Dan tentu saja tidak, saya tidak menghayal yang macam-macam. Hanya saja, memiliki banyak waktu luang untuk menonton berita membuat saya terhenyak dan seolah terbangun dari mimpi. Kemana saja saya belakangan ini? Mengapa saya tidak menyadari negara ini sedang berada di krisis yang lebih hebat dan lebih dalam dari apa yang sudah saya bayangkan? Apa yang ada di bayangan saya saja sudah cukup mengerikan…

Masih terbayang dengan jelas oleh saya ketika para anggota DPR bersepakat untuk mengucurkan dana tambahan untuk menghadiahi diri mereka sendiri sebuah laptop. Kemudian masih terbayang juga dengan jelas liputan tentang halaman parkir di senayan sana. Betapa mewahnya mobil-mobil yang terparkir disana. Kemudian tentang lobby-lobby politik maupun rapat kerja dadakan yang dilaksanakan di hotel-hotel berbintang. Read More