Kepada ibunda

Bunda, terima kasihku untuk semua cinta yang telah kau berikan padaku.
Kau yang telah dan akan selalu ada, didalam suka dan duka, untuk temani aku, bunda..
Begitu banyak yang kau lakukan, tak terkisahkan caraku membalasnya…

Pagi kau ciumku penuh sayang, kau beriku kekuatan untuk tak lelah berjalan.
Malam ku tak pernah kau tinggalkan, sampai mimpiku menjelang, dan tersenyum di buaian..
Terima kasih bunda, untuk semua doa.. Kau pelukku bahagia, bunda, aku cinta kau, bunda…

[REFFRAIN]
Meski berjuta tahun, aku hidup dan mencoba..
Takkan pernah terbalas, kasihmu bunda, cintamu bunda..
Andaikan aku bisa, aku terbang ke angkasa..
Kan kuatur bintang-bintang, dan kutulis namamu bunda..

Agar dunia tahu, bunda, aku cinta kau, bunda…

(LUVME – Kepada Ibunda)

Read More

Saya adalah seorang musisi

Saya selalu menolak untuk menjadi PNS atau Pegawai BUMN seperti ayah saya. Mengapa?

Saya akan bercerita kepada kalian semua, tentang mengapa saya tidak berharap (setidaknya, sekarang) mempunyai pekerjaan yang memiliki jaminan pensiun, kesehatan, dan lain-lain. Tidak harus PNS ataupun BUMN, tapi segala jenis pekerjaan yang menyita waktu secara konstan dari pagi sampai sore, dan saya terikat kontrak seumur hidup untuk tidak bisa keluar dari sana semau saya.

Seperti halnya semua teman-teman seumuran saya yang bertanya tentang prinsip hidup saya, begitu juga orang tua saya (dulunya) dan mungkin kalian, dengan efek dramatis seperti di sinetron-sinetron Indonesia, dimana kalian membelalakkan mata dengan mimik muka bingung sekaligus marah, dan kamera zoom-in berkali-kali, kita ulangi lagi pertanyaannya.

KENAPA, PUT?

Oh, baiklah. Dari mana saya harus mulai ya? Bagaimana kalau dimulai dengan mengapa saya tidak suka bekerja “normal”. FYI, saya sudah mulai bekerja reguler semenjak semester satu –sekitar tujuh tahun yang lalu. Jadi, tidak tepat jika ada yang berkomentar bahwa ini adalah bentuk kemalasan saya, dan hanya ketakutan saja.

Dari tahun 2001 sampai bulan Oktober 2007, saya sudah bekerja di segala macam profesi dan kantor. Dari perusahaan kelas kacang sampe M N C, dari warnet sampai bank internasional, dari kelas bersih-membersihkan sampai membawahi orang lain. Tapi semuanya paling lama bertahan selama satu tahun. Entahlah, orang tua saya menyebut saya sebagai orang yang tidak bisa menerima perintah, salah seorang rekan kerja saya menyebut saya sebagai seniman; karena saya bekerja semau saya, dan kebanyakan teman saya menganggap saya orang aneh yang keras kepala. Tidak bisa saya salahkan.

Lalu, jika pertanyaan masa kecil saya diulang kembali saat ini, terus terang saya akan bingung menjawab pertanyaan tersebut. Jika ada orang yang bertanya, “apa yang kamu kerjakan untuk hidup?” maka saya akan menjawab sekenanya saja. Designer, Web Developer, Konsultan, bikin kantor kecil-kecilan, musisi, apa saja yang melintas di otak saya, tergantung siapa yang bertanya. Dan semua profesi yang saya sebutkan diatas, memang saya lakoni.

Read More

Perjuangan masa kini

Pada awalnya saya ingin membahas masalah politik dan negara dalam kerangka yang lebih serius dan terstruktur, akan tetapi urung saya lakukan karena saya merasa ada pihak/perorangan yang lebih berkompeten membahasnya secara sedemikian rapi, dan saya juga tidak memiliki cukup waktu untuk riset mendalam. Hehe.

Akan tetapi, sebagai warga negara yang merasakan kegelisahan melihat semakin parahnya kondisi negara kita tercinta saat ini, muncul keinginan untuk membahas masalah ini. Kita memang berada di dalam krisis multi-dimensional, tetapi kita juga pasti bisa mengurai masalah-masalah yang ada secara pelan-pelan. Bobroknya moral pejabat-pejabat kita, tidak lantas kemudian kita akan berpangku-tangan saja, bukan?

Masalah yang sangat mengganggu di kepala saya adalah, bahwa tingkat pengangguran kita sedemikian tingginya. Ini tentu saja bukan hal yang baik, karena tingkat pengangguran berbanding lurus dengan kemiskinan, dan kemiskinan mau tak mau berhubungan dekat dengan aspek bermasyarakat. Kriminalitas adalah salah satunya. Sehingga, sedemikian pentingnya masalah ini untuk kita perhatikan. Semakin banyaknya pengangguran di negara ini akan berakibat semakin banyak perut-perut lapar, dan dalam keadaan lapar orang tidak bisa berpikir jernih.
Read More