Meledak dengan senyuman

Hiyaaak, mari mengatur jadwal.

Deadline perpusnas di depan mata, no problem. Tapi lalu bagaimana dengan bank niaga? Ah, masih bisa lah disambi.

*tarik nafas dikit, senyum-senyum dikit*

Gimana dengan garuda indonesia?
Website-nya asean juga belum kelar, kapan dong?
Majalah harus udah terbit bulan depan?
Lalu, mau masuk studio?
Kemudian mau nyambung kuliah?
Urusan kantor?
Materi lagu..? Materi majalah..?

Ah, ya udahlah, nanti minta bantuan jin yang ngerjain prambanan aja.. santaiiii….

*tutup leptop, kemudian bakar kemenyan*

(via multiply)

Residu romantisme sialan

Sekitar 3 tahun yang lalu, saya pernah membuat sebuah tulisan kontroversial tentang otak manusia dan relativitas kenangan dengan sampah. Saya masih ingat betul tentang komentar orang-orang yang tidak setuju dengan saya, dan mungkin salah paham bahwa saya menganggap mantan-mantan saya adalah sampah. Tidak, saya tidak pernah menganggap mantan saya sebagai sampah, karena saya berbicara tentang residu romantis yang mengendap di otak saya.

Oh well, mau tidak mau saya harus mengakui bahwa residu romantis itu begitu melekat erat dalam otak. Jikalah boleh saya memilih untuk membuang beberapa bagian kenangan itu dari otak saya, saya akan sangat berterima kasih kepada dokter cinta yang bisa melakukannya. Karena kenyataannya, semua tidak semudah yang dibayangkan.

Katakanlah, untuk get over dari seseorang. Bagaimana mungkin saya bisa melupakan sebuah blueprint masa depan saya dengan seorang gadis begitu saja? Beberapa orang bisa berkata dengan mudah, “buang semua hal yang berhubungan dengan dia..”

It’s just not that easy.

Nomer handphone, yang saya hapal luar kepala. Jangan berbicara tentang foto, karena semua bayangan tentang senyum dan segala macam detail pakaiannya saya hafal mati. Alamat rumah? Sudahlah, saya bahkan bisa dalam 5 detik ber-teleport dari cubicle saya ke rumahnya dengan kecepatan hayalan. Hadiah? Ah, dia tidak pernah memberikan saya hadiah apapun, kecuali semangat dan inspirasi untuk 1 novel, 2 buku puisi, 400 post di blog, dan materi untuk 2 album rekaman.

Call me irrational.. call me pathetic..

Apa yang bisa–tepatnya, harus–saya hapus? Otak saya sendiri? The so called unconscious mind turns my brain into a gigantic-love-junkyard. Damn you, Freud.. what’s the cure?
Iya, Freud sudah berkali-kali berbicara tentang unconscious mind. Shakespear juga. Nietzche juga. Tapi kok ya menyelaminya itu susah sekali?

Call me irrational.. call me insane..

Akhirnya, kembali sebuah kenangan yang mengantarkan saya kepada kenangan lainnya. Cukup butuh satu benda kecil–atau satu kalimat kecil, atau pakaian yang sama, atau lagu yang sama, atau apalah–untuk merubuhkan semesta kesadaran yang tertatih mencoba untuk berdiri tegak. One small thing leads to another thing.

Seperti anggapan para ilmuwan kuantum, bahwa satu kepakan kecil kupu-kupu di sebuah sisi bumi bisa mengakibatkan kehancuran separuh sisi bumi lainnya. Persis. Persis. Persis…

Yah, akhirnya, sebuah puisi yang saya tulis 3 tahun yang lalu juga yang mampu berbicara.

aku ingin mencintaimu,
seperti momen inersia yang diungkapkan newton,
hanya diam sesaat,
lalu bergerak beraturan setiap kali dibutuhkan..
tapi aku belum bisa,
karena bahkan kau tak memiliki gravitasi,
karena kau bebas terbang dengan sayapmu..

aku lelah tetap menjadi gaya sentrifugal,
sementara kau menjadi sentripetal..
tidak bisakah kau hanya menjadi titik itu saja,
sementara aku yang menjadi gayanya?

bersediakah kau, untuk tetap diam,
dan aku yang memutari lingkaranmu?
agar aku bisa berjanji,
aku yang akan menjadi sentrifugalmu sepanjang nafasku
terjaga di setiap lelapmu,
dan melengkapimu dengan setiap kekuranganku

karena aku tak punya apa-apa..
karena aku, hanya punya hati ini,
dan cinta…
(2004-08-10 / 8:36:49 am)

dan akhirnya, ketika sudah tidak ada lagi kata yang bisa terucap ketika dia berulang tahun setahun lalu, yang terucap hanya,

keterjang gelap, rebahkan pekat..
kujungkir balikkan dunia, jika itu yang kau mau..
kuterangi langit malam, jika itu yang kau tunggu…

lalu kau akan tahu,
aku masih tersungkur untuk hatimu

Saya tahu ini omong kosong. I know that this kind of love is such a freakin’ bullshit, but I just can’t take her out of my mind. Somebody save me, please…

(via multiply)