akhirnya terjadi juga :(

It was happened so fast.

Pertama kali aku melewati tempat itu, aku sebetulnya sudah ragu untuk masuk. Ditambah lagi waktu yang sudah cukup malam, sehingga sekelilingnya terlihat sangat sepi. Angin yang bertiup kencang membuat udara malam menjadi sangat dingin.

Suasana yang aneh, mengingat Jakarta biasanya selalu panas, tidak pernah sedingin ini.
Pelan-pelan aku melangkah mendekati tempat itu. Ketika akhirnya aku sampai di depan pintunya, aku berdiri cukup lama, bahkan sempat menyalakan rokok dulu. Berpikir dulu terakhir kali sebelum mengambil keputusan, batinku.

Kulihat lagi jam di handphone-ku. Sudah mendekati jam 9 malam. Sekarang, atau harus menunggu lagi untuk waktu yang cukup lama.

Akhirnya kulangkahkan juga kakiku memasuki pintunya. Begitu masuk, langsung terlihat beberapa orang wanita yang duduk sambil membicarakan hal yang tidak begitu terdengar jelas di telingaku.

“Mau yang model bagaimana mas? Lihat-lihat saja dulu katalognya..” Wanita itu tersenyum, umurnya kurang lebih 25an, menurut taksiranku.

“Atau mau dipijat dulu?” Katanya sambil tersenyum ramah.

Aku hanya menggelengkan kepala. “Langsung saja deh mbak, saya buru-buru” sahutku dingin. Dia lalu menganggukkan kepala sambil mengajak aku menuju ke belakang.

Sepanjang jalan menuju ruangan tersebut, pikiranku melayang kemana-mana. Benarkah aku ingin melakukan ini? Tidakkah aku menyesalinya nanti?

Tiba-tiba ada tangan lembut yang menyentuh pundakku. Aku terkesiap, lalu memalingkan wajahku untuk menatapnya. Rambutnya yang panjang dan berwarna merah burgundy mengingatkan aku kepada seseorang.

“Tenang saja mas, gak usah tegang. Kayak baru pertama kali saja…” katanya sambil tersenyum nakal. “Langsung saja ya, udah mau hujan kayaknya diluar.” Lagi dia berbicara sendiri, mungkin hanya ingin beramah-tamah, tak mengharapkan jawabanku.

Sesaat setelah tangan itu menyentuh bahuku, aku seperti entah berada dimana. Pikiranku melayang-layang kembali, mengingat hal yang sepotong-sepotong muncul dan menyerbu bagaikan hujan frame demi frame foto. Tau-tau, aku sudah berkeringat dingin.

Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak berpikir lebih dulu?

“Sudah hampir selesai kan mas? Gimana? Lebih segar kan?” Katanya seperti menunggu jawabanku.

“Kenapa mbak?” Aku meracau.

“Iya, sudah hampir selesai nih potongnya. Kurang pendek ya?” Sahutnya lagi.

Dan ketika aku melihat ke cermin, aku langsung terkesiap. TIDAAAKKK, rambutku seperti si Yoyo.

Akhirnya, setelah sekian lama mempertahankan prinsip untuk tidak memotong rambut, aku mengalah. Demi kebahagiaan dan menghindari tatapan gemas dari orang-orang yang berada di sekelilingku ketika sedang meeting di bank-bank ternama itu.

Sudahlah, yang sudah terjadi biarlah. Walaupun aku terlihat seperti Geovanni sekarang.
Hhhh, seketika aku melangkah keluar dari salon terkenal itu, hujan pun turun dengan derasnya. Air mata bumi menetes melihatku. Hanya saja, entah itu air mata sedih, atau malah air mata karena tertawa terbahak-bahak melihat tampangku, aku tak tahu.

Hiks…

(via multiply)