Menghayal itu mahal…

Ya, kurang lebih itu yang saya rasakan 2 bulan terakhir ini. Biasanya saya selalu menikmati waktu-waktu tertentu yang saya gunakan untuk menghayal, entah itu mengarang lagu, meneruskan draft novel, memikirkan judul album, memikirkan mobil apa yang ingin dibeli, mencari-cari lokasi rumah yang cocok, dll dlsb.

Tapi tidak dengan load kerja segila ini. Sebulan terakhir bekerja secara cascading untuk menyelesaikan proyek dari sebuah bank yang cukup besar, ditambah lagi jadwal bertamu ke kantor klien yang galak dan kritis, membuat saya kurang–bahkan hampir tak ada–waktu untuk menghayal lagi.

Oke, blog pun sudah pasti tentu tak akan terurus lagi. Rencana untuk mengganti layout sudah hampir dipastikan mundur sejauh mungkin. Inginnya sih secepatnya, tapi apalah daya. Saya dan teman-teman di kantor kini merangkap juga profesi baru; tukang sulap. Ya, kami menyulap sebuah draft storyline menjadi project utuh dalam waktu sehari.

Dejavu? Mengingatkan kepada Roro Jonggrang? Read More