Doamu adalah nafasku…

Setelah 36 jam tak tertidur sepicing pun, tadi pagi akhirnya saya beranjak juga dari depan monitor komputer saya, untuk kemudian naik mobil ke kawasan kompleks Bank Indonesia di daerah manalah itu yang dekat senayan.

Belum sejam terbebas dari komputer, mata ini kembali harus berhadapan dengan powerbook yang sengaja dibawa untuk meeting dan presentasi. Setengah jam yang biasa saja, meeting dan branding dengan salah seorang officer di Lantai 10 gedung Bank Indonesia.

Ketika selesai meeting, waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 AM, menandakan waktu dzuhur sudah hampir masuk, dan sudah waktunya untuk segera bergegas menuju masjid. Turun dari lift, mata ini terasa berat sekali, karena memang belum tidur. Akhirnya, ya sholat Jum’at disana.

Ketika rakaat kedua sholat Jumat, sang imam membaca ayat Qur’an yang–dengan bahasa arab tertatih saya mencoba mengerti–artinya bercerita tentang nabi Ibrahim. Setelah itu, ada beberapa kali pengulangan kata “waalidaiyn” yang artinya “kedua orang tua”. Read More

Matahari Jakarta

‘Keteraturan membuat hidup lebih mudah, tapi kejutanlah yang membuat hidup lebih indah..’ Begitu kurang lebih kalimat yang saya tuliskan di buku pribadi saya, kurang lebih tiga tahun yang lalu. Tampaknya, sekarang kalimat itu terngiang lagi di telinga saya. Tiga tahun hidup atas nama idealisme tidaklah mudah, tapi terus terang, sangat indah.

Sekarang, setelah hampir dua bulan berkontemplasi di Medan, saya terpaksa menelan pahitnya perjuangan untuk sebuah komitmen. Ya, komitmen untuk berada di jalur yang sudah menjadi cita-cita hidup –lebih tepatnya, hidup itu sendiri– untuk saya; musik.

Adalah musik yang mengantarkan saya melanglang buana sejauh ini, beratus kilometer jauhnya dari keluarga yang sangat saya cintai. Adalah musik juga yang membentuk kepribadian saya hingga seperti saat ini.
Read More