masih tersungkur untukmu

keterjang gelap, rebahkan pekat..

kuperangkap rembulan, lelaplah disampingku..
kujungkir balikkan dunia, jika itu yang kau mau..
kuterangi langit malam, jika itu yang kau tunggu…

lalu kau akan tahu,
aku masih tersungkur untuk hatimu
tak beranjak kemanapun,
sampai kapanpun…

hari ini pun, masih tetap kamu yang tersenyum manja di setiap sudut jalan dengan memegang bunga dan berpakaian serba pink.. walaupun cuma bayangan, tapi masih kamu…

cuma kamu…

ah, kujungkir balikkan saja dunia ini…

untuk dan karena mereka…

Baru sembuh sakit. Alhamdulillah badan udah sehat, tapi masih sering lemes sih, dan perut nih ga bisa diajak kompromi 🙁

OK, let’s talk about something.

Inspirasi. Saya yakin, semua orang punya sumber inspirasi. Nggak harus jadi seniman kok untuk bisa merasakan apa yang namanya inspirasi tadi.

Nah, belakangan ini, saya suka minder. Minder kenapa? Karena ternyata, saya ini nggak ada apa-apanya. Masih jelas dalam ingatan saya waktu saya masih SMA dulu, saya tergila-gila dengan Sheila on 7, sampai sekarang pun masih. Tentu saja, seorang Eross Chandra adalah orang yang cukup berpengaruh dalam hidup saya.

Lalu, waktu saya tinggal di jogja, band saya waktu itu satu manajemen dengan Jikustik. Jadi, latihannya pun satu studio dengan Jikustik. Setiap sabtu sore, kita sering kumpul-kumpul, biasanya ada Pongky, Icha, personel Es Nanas, dan tentunya, Eross him self. Tapi lucunya, saya malah baru sempat ngobrol sama dia waktu mereka main di Bandung, pas soundrenalin (waving to Dedeh, masih ingat deh? hehe)

Sebagai seorang (yang mencoba jadi) anak band yang baik, saya tau bagaimana susahnya bermain musik dengan bagus. Dan sebagai seorang penulis lagu (yang tentunya gak beken), saya juga tau bagaimana susahnya menulis lagu yang baik. Eross Chandra, bisa dibilang satu diantara lima orang yang bikin saya rendah diri. Penjualan album yang berjuta-juta, menulis lirik yang luar biasa, bermain musik dengan sound yang menakjubkan. Dan lain-lain, dan lain-lain..

Lalu, ada Adhitya Mulya. Adhit bagi saya sendiri, adalah seorang sosok yang menginspirasi. Saya tau betul bagaimana susahnya menulis novel, apalagi yang lucu, dan laku. Diangkat jadi film pula!
Ditambah lagi, semuanya dilakukan dengan kesibukan dan kerjaan yang menumpuk. Gila!
Jadi, resmilah Adhit sebagai orang yang bikin saya rendah diri taun ini (sebetulnya dari waktu pertama kita ketemuan di foodcourt BSM). And above all that, memiliki seorang istri yang cantik, pleus sama-sama menulis juga. Laris, dan bentar lagi diangkat jadi film juga. Ah, luar biasa.

Yang ketiga adalah Dewi Lestari, penulis Supernova; buku yang paling saya tunggu tahun ini. Pinter, smart, penyanyi, dan kecerdasan menulisnya, ahhh, luar biasa. Speechless dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Yang keempat adalah–yang paling luar biasa–ayah saya sendiri. Bukan karena sok manis atau sok jadi anak berbakti, tapi sumpah ayah saya adalah orang yang paling saya kagumi. Perjalanan hidupnya; dari kuli pasir (padahal kakek saya punya usaha ini), jualan es, lalu jadi karyawan upah di Telkom (dulu Perumtel), sampai akhirnya jadi karyawan tetap, dan meraih penghargaan sebagai Man of the year-nya Telkom Divre 1.

Ayah saya itu guru ngaji saya dari kecil, tanpa dia saya nggak mungkin bisa dapat juara Nasional 2 kali MTQ Telkom, ayah saya juga juara Nasional, dan karena dia saya terpacu. Ayah saya itu guru seni saya, dia sutradara teater waktu masih muda, dan dari buku-bukunya saya belajar Shakespear, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Dia juga yang mengenalkan saya pada Khairil Anwar, dan lalu bisa jadi juara pementasan puisi tingkat kotamadya.

Ayah saya juga, yang memperdengarkan Queen dari kecil kepada saya. Dia juga yang mengajar saya irama nasyid, sehingga saya jadi pemukul beduk terbaik kotamadya waktu SMA. Dia juga yang mengajarkan teori manajemen dan ekonomi. Dia pula yang mengajarkan komputer waktu saya kelas 6 SD. Dia juga yang mengajarkan cara belajar yang baik, sehingga saya tidak pernah melewatkan juara umum setiap catur wulan saat SMP.

Walaupun, efeknya saya sangat susah membanggakan sesuatu kepada dia, karena semua pernah dilewatinya. Perbincangan antara saya dan dia ketika saya pulang, percaya atau tidak, bisa merangkum semua hal. Kami bisa duduk berjam-jam membahas tentang semua hal, politik, ekonomi, agama, pemerintahan, internet, teknologi, musik, film, buku, filosofi, semuanya. Ahh, saya rindu dengan ayah saya 🙂

Orang kelima. Ya, sudah tidak perlu diberi tahu lagi ya. Saya rasa semua teman dekat saya, dan semua orang yang membaca tulisan saya dari dulu, sudah tau siapa dia 🙂
Dialah orang yang mengisi berpuluh-puluh lagu saya, mengisi setiap baris puisi yang saya buat, inspirasi awal dari Sang Pemimpi Subuh yang entah kapan selesai, semuanya tentang dia. Dan pernah suatu kali dia bertanya, kenapa saya begitu memuja dia, karena dia merasa tidak pantas dipuji. Waktu itu saya tidak bisa menjawabnya, tapi sekarang saya bisa; hanya laki-laki bodoh yang tidak bisa memuji dan menghargai wanita, dan saya tidak mau jadi laki-laki bodoh 🙂

Sudah kodratnya, wanita itu dipuja setinggi langit, apalagi jika dia yang kita cinta. Saya, tidak pernah merasakan perasaan yang sangat luar biasa, yang bisa merubah hidup dan cara berpikir saya, yang bisa menjadi vitamin paling luar biasa untuk keseharian saya. Nah, kalo kamu baca, untuk itulah saya memuja kamu dua tahun belakangan ini 🙂

Lima orang diatas, adalah orang paling berpengaruh yang pernah saya temui dalam kehidupan saya. Untuk dan karena mereka lah saya mengerjakan semua proyek-proyek saya saat ini. Menulis lagu untuk bisa setidaknya menyaingi seorang Eross Chandra, menulis novel untuk bisa setidaknya menyaingi Adhitya Mulya dan Dewi Lestari, bekerja dan bertanggung jawab untuk bisa mendapatkan pujian dari ayah saya, dan melakukan semuanya, untuk bisa mendapatkan hati orang yang kelima, karena tanpa dia, semua tidak ada artinya…

Yaah, begitulah, hehe. Siapa yang menginspirasi kalian?