semangat baru..


** cumbuilah malam, berkata bintang
** bernafas lalu aku dalam gamang
** tak tersisa lagi rima jantung di badan
** dan kau tertawa indah, aku kehangatan
**
** lama menunggu, lalu terdiam
** tak berucap sendu, muram menghilang
** kubunuh sedihmu, kuharap bertahan
** jangan menangis, tertawalah lantang

** aku ingin membawamu lagi ke dingin malam
** menerobos langit merah membuka kelam
** aku terkapar disini, nanti aku datang
** jangan berhenti tersenyum, kau sudah menang..

(ditujukan untuk seseorang yang baru bisa tersenyum lagi)

Selamat tahun baru Islam 1 Muharram 1427 Hijriah ya untuk yang merayakan. Selamat tahun baru Imlek juga (ga tau tahunnya berapa).

Doakan juga saya cepat sembuh ya. Tiphus ini masih menggerogoti badan dan pikiran. Kepingin nulis sesuatu, tapi mungkin nanti saja lah 🙂
sampai bertemu lagi, kalau saya sudah sembuh…

a bunch of craps.

Apa artinya memberikan janji, untuk sesuatu yang mungkin tidak bisa kita tepati? Hanya sekedar menyenangkan seseorang yang sudah terlanjur berharap? Apakah itu pantas, dan etis?

Saya rasa tidak.

Untuk apa bermanis-manis ucapan, kalau hanya sekedar untuk menenangkan. Seperti ketika sedang menghadapi anak kecil yang sedang merengek minta diambilkan bulan, beberapa orang mungkin akan menyikapinya dengan berkata, “Iya sayang, nanti kita beli yah. Tapi kalau kamu sudah besar.”
Impact-nya, tentu saja, si anak kecil tadi akan terus menerus bermimpi dan berharap, kalau dia akan mendapatkan bulan seperti yang dia inginkan.

Itu, tidak baik…

Terus terang, saya dalam kondisi kecewa berat, bad mood, high temper, kehilangan harapan, dan lain sejenisnya ketika mengetik postingan ini. Rentetan kejadian dari mulai sebelum Idul adha, sms-sms, telepon-telepon, email-email, keberangkatan ke luar kota, dan semua pembicaraan yang ada satu bulan ini terasa omong kosong. Semuanya, beberapa orang teman, beberapa orang investor, beberapa orang calon client. Semuanya omong kosong. Crap!

Saya pernah berbicara dengan seorang teman baik, kalau saya ingin membatalkan janji yang pernah saya ucapkan kepada seorang gadis. Dia berkata, kita sebagai orang dewasa harus menepati janji. Saya rasa memang begitu. Tapi kok ya malah, saya yang jadi kecewa ya? Lalu, belakangan, semua orang rasanya melakukan hal yang sama terhadap saya. Membatalkan saja janjinya segampang membalikkan telapak tangan. Malah mungkin, pura-pura lupa.

Sudahlah, saya merasa sangat letih. Letih yang sudah terlalu berkepanjangan. Capek terus-terusan meladeni janji-janji yang cuma omong kosong, yang mungkin tidak akan pernah ada wujudnya.

Terus terang, sangat ingin untuk menghilang, pergi begitu saja. Whuss, lalu saya hilang tertiup angin, dan menyatu dengan udara. Sialnya, udara pun terlalu sumpek, pengap, polusi, tercemari.

Tenang Put, tenang.. jangan nangis kayak anak kecil. Semua impian kamu itu, mungkin memang terlalu susah dimengerti, jadi ya cuman kamu sendiri yang bisa memenuhi. Persetan sama orang-orang yang cuma bisa baik kalo lagi ada perlunya aja. Tunjukin sama mereka, kalo mereka bakal nyesel.

Tenang Put, tenang.. Hidup kamu itu masih lebih enak dibandingkan orang yang bangun jam 2 pagi cuma untuk merapikan sampah-sampah yang dibuang tanpa tanggung jawab, dan cuma dibayar 25o ribu/bulan.

Udah, ga usah nangis. Kuat. Kuat. Ayo lawan!

Itu kata hati saya yang berbicara. Entahlah, tapi air mata ini sudah menetes. Bukan cengeng karena realita, tapi sedih karena merasa tiba-tiba tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa diharapkan.

Maaf juga, selama sebulan ini saya tidak sempat blog-walking. Benar-benar tidak ada waktu sama sekali, karena harus melakukan sesuatu yang sangat penting; yang ternyata tak ada gunanya. Nanti kita ketemu lagi ya, mudah-mudahan =)

Ya sudahlah. Saya ingin pergi. Entah kemana, entah berapa lama, entah kenapa, dan entah siapa yang akan saya temui nantinya. Entahlah…

teruntuk hatimu, dari aku..

Download Theme Song: starnine – teruntuk hatimu dari aku

“Tiada kesan tanpa kehadiranmu..” Begitu tagline kartu undangan dari ulang tahun teman ketika jaman saya masih TK/SD dulu. Pipi yang cemong oleh bedak yang tidak rata, rambut yang masih basah karena baru selesai mandi, pakaian andalan yang mungkin hanya dipakai untuk acara spesial, hadiah yang isinya kebanyakan buku dan alat tulis, dan lain-lain.

Ahh, masa kanak-kanak, masa dimana kita tidak perlu berpikir tentang rumitnya dunia. Masa dimana kita belum perlu berpikir tentang jodoh (ada yang sudah?), tentang mencari pekerjaan, tentang kesiapan menikah (oh, sekali lagi, ada yang sudah??), tentang bayar tagihan handphone dan internet (ya iyalah!), atau hal-hal kecil seperti menggaji karyawan anda supaya mereka bisa menghidupi diri. Such a wonderful time…

anyway, sejak kecil kita sudah diajarkan, bahwa tak ada kesan tanpa kehadiran teman-teman kita. Betapa pentingnya orang-orang yang ada di sekeliling kita, karena manusia itu kan makhluk sosial bukan?

Begitulah juga dengan saat kita tumbuh dewasa, mulai mengenal yang namanya cinta. “Tak ada kesan tanpa kehadiranmu, sayang..” mungkin adalah tagline yang tepat untuk kekasih hati. Tanpa dia, hidup terasa sepi, tak bermutu, tak ada artinya, hampa, hina dina cuih cuih… hehehe…

Saya jadi kepikiran, kalau saya mencintai seorang wanita, mungkin bukanlah karena saya membutuhkan dia untuk berbagi. Saya rasa tidak, karena saya punya banyak teman untuk sekedar ber-haha-hihi. Bukan pula untuk menyiapkan makanan ketika saya pulang kantor, karena bisa saja saya menggaji seseorang. Bukan pula unsur seks-nya, karena bisa saja saya mencari teman untuk berdiri semalam (duh, jangan sampe deh). Bukan pula karena saya butuh keturunan, karena bisa saja saya membayar seseorang untuk itu (ingat chandler dan monica dalam friends?)

Lalu untuk apa?

Saya baru menemukan jawabannya. Ternyata, saya butuh dia, karena apa yang saya lewati, terasa tidak ada artinya tanpa dia. Saya butuh dia, karena dia selalu mengisi pikiran saya, baik ketika bekerja, melamun, sedang baca buku, bahkan ketika mengetik postingan ini. Saya butuh dia, karena saya tidak pernah bisa berhenti memikirkan dia, ketika dia tidak ada di samping saya. Bahkan mungkin, ketika dia ada disamping saya juga.

Sesimpel itu.

Pernahkah kalian, merasa benar-benar jatuh cinta–deeply falling inlove–dimana ketika kalian mendengar namanya, hati kalian bergetar? Pernahkah kalian sangat tergila-gila dengan seseorang, sehingga wanita/lelaki manapun yang kalian lihat, mengingatkan kalian kepada dia?

someone: Liat deh itu cewek, cantik banget!! Rambutnya panjang lurus, kulitnya putih, ketawanya lucu, naik odysey pula!! Hampir sempurna deh..
kita: iya, persis xxx (nama si jantung hati.red) *sambil menghayal*

Pernahkah kalian, begitu jatuh cinta, sehingga ketika seorang Dian Sastro, Mariana Renata ataupun Ladya Cherryl sedang kencan dengan anda, tapi kalian malah asik melamunkan dia dan salah sebut nama?

Mariana: Besok kita nonton yuk…
Kita: Hayuk.. apa sih yang nggak buat xxx (nama si jantung hati.red)

Pernahkah kalian, mempersiapkan materi rekaman untuk album, dan ternyata semuanya berbau cinta? Semuanya, mengingatkan kalian kepada dia? Dan ketika, ditolak pihak produser karena temanya terlalu datar, lalu kalian mengulang membuat semua materinya, dan setelah terkumpul lengkap, ternyata semua lagunya masih tentang dia?
Ketika kalian menuliskan lagu tentang orang tua dan anak, yang terbayang adalah kalian menikah dengan dia, dan lalu punya anak? Ketika kalian menuliskan lagu tentang perasaan seseorang yang jatuh cinta kepada temannya, mengingatkan kisah cinta kalian yang ditolak karena dia hanya menganggap kalian teman?

Pernahkah kalian, tiba-tiba merasa bahwa harta, kekuasaan, kehormatan, kebanggaan, prestasi dan semua hal lainnya tidak berarti tanpa dia?

Jika sudah, selamat mencicipinya.

Tapi yang paling penting, pernahkah kalian berhasil mendapatkan cinta sejati kalian? Bahagiakah?

Jika sudah, doakan saya juga bisa merasakan kebahagiaan kalian 🙂

“Tiada kesan tanpa kehadiranmu..” kalimat itu membawa saya ke dalam hayalan. Benar-benar tidak ada kesan tanpa kehadiran si pujaan hati tadi dalam kehidupan saya. Tidak ada artinya memiliki sebuah mobil odysey tanpa dia yang duduk di sebelah saya. Tidak ada artinya memiliki rumah mewah jika bukan dia yang menjadi nyonya rumahnya. Tidak ada artinya memiliki uang sekian milyar jika bukan untuk menemani dia sekedar berbelanja mango atau treatment di salon favoritnya.

Ah, jadi ngelantur. Jadi curhat juga. Payah. Tapi ya, sekali lagi, tidak ada artinya menulis postingan sepanjang ini, jika dia tidak membacanya. He he he.

Tidak ada kesan juga, tanpa kalian semua dalam kehidupan saya.

Benarkah kita sudah membunuh Tuhan? (sebuah tanggapan)

Dear oh dear, it’s been a very hectic days lately. To much things to do, with less time to manage them. Ahhh, need a break, need a vacation, need somebody to hug ^^v

Anyway, I wanna post something else insinde my mind, when suddenly this topic come again, and I think that I have to write something about it. It’s urgent, so then I’ll pass my other thoughts for a while.

Let’s give it a shot. Dan oh iya, maaf kalau ada yang tersinggung. Hanya mencoba untuk mengungkapkan pandangan 🙂

****
kalau ada istilah yang nggak familiar, tanyakan di komen yah, saya coba jawab sebisa saya 🙂
****

Sekitar tiga bulan yang lalu, saya sedang dalam sebuah diskusi dengan teman-teman dari beberapa milis. Diantaranya adalah sebuah milis psikologi transformatif, milis para proletar dan milis yang dikelola oleh para sastrawan “pembebas”.

Ada satu hal menarik dan jadi benang merah antara orang-orang ini, yaitu mereka kritis, argumentatif, logis, dan mereka adalah orang-orang cerdas. Saya ikut berdiskusi, supaya bisa mencuri-curi ilmu dari mereka.

Awal mulanya, diskusi berjalan dengan baik. Sampai akhirnya, entah bagaimana, semua topik dihubungkan dengan Tuhan. Dan oh, itu masih belum ada apa-apanya ternyata, setelah itu, diskusi terbagi menjadi tiga kubu; Kubu Theis – Kubu Sekuler dan Kubu Atheis.

Dan tiba-tiba, diskusinya berubah menjadi debat kusir.

Apa yang kami (lebih tepatnya, mereka) perdebatkan? Tentu saja, tentang ketuhanan. Tentu saja, kenapa tidak? Sejak beribu-ribu tahun yang lalu manusia sudah memulai pencariannya akan kekuatan yang lebih besar.

Dan jujur saja, sejak 3 tahun yang lalu, saya agak tertarik dengan orang-orang yang menganut paham Atheisme. Tidak, saya bukan ateis. Saya sendiri adalah seorang fanatik. Sekitar 1 tahun yang lalu, saya sempat menjadi seorang yang agnostik, lalu kemudian jadi sekuler, tapi kemudian saya mencabut lagi semua status tadi. Saya, bukan seorang muslim yang sempurna, tapi saya mencoba 🙂

Jaman sekarang, disadari atau tidak, banyak sekali orang yang mengaku ateis. Itu hak mereka, saya rasa. Yang saya tidak setuju adalah, ketika mereka menjadi ateis, mereka menjelek-jelekkan agama dan segala strukturnya, dan menghina Tuhan. Itu, tidak bisa ditolerir lagi, teman 🙂

Saya sempat bertanya secara intens untuk riset tulisan saya, tentang mengapa mereka menjadi ateis. Dan ini, adalah beberapa alasan mereka:

* “Saya terlalu capek dengan embel-embel agama yang digunakan untuk pembenaran atas perang, kekuasaan, dan lain-lain.”
> Ok, saya mengakui ada beberapa yang benar soal ini, tapi kalau menjadi ateis karena soal ini, saya rasa anda tidak cukup alasan. Coba jawab pertanyaan saya, ketika mobil anda tidak bisa berjalan dengan baik karena ban-nya bocor, apakah lantas anda tinggalkan mobil anda? Jadi, kalau ada orang yang mengatasnamakan agama untuk pencapaian pribadi, berarti dia belum beragama dengan benar.

* “Agama sudah terlalu usang, dan tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.”
> Jawaban saya, anda bodoh! Apakah anda tahu, para Imam yang ingin membedah Qur’an (maaf untuk yang lain, saya baru riset soal Qur’an saja soalnya) itu harus memiliki minimal 15 jenis ilmu pengetahuan. Lalu, anda yang tidak tahu apa-apa, dengan angkuhnya mengutip dan memotong ayat dari kitab suci, lalu men-tidak relevankan-nya dengan keadaan zaman. Jadi yaa, jangan marah kalau ucapan anda tidak bisa saya jadikan acuan dong ah…

* “Manusia sudah semakin pintar, dan semakin maju. Makin lama, akhlak dan moral manusia semakin tinggi, hingga akhirnya (menurut perkiraan mereka, sekitar 300-500 tahun lagi) teknologi dan akhlak manusia akan ditahap hampir sempuna, sehingga tidak butuh agama dan Tuhan lagi untuk menjadi panutan dalam hal kebaikan.”
> Jawaban saya? Saya tertawa. Sumpah deh. Mari kita tanya ke diri kita sendiri, apakah semakin lama akhlak manusia semakin baik? I M H O, makin hari akhlak manusia semakin hancur, dan terjadi pergeseran terus menerus yang melunturkan nilai-nilai kebaikan itu sendiri. Dan pegang ucapan saya, ketika agama musnah dari bumi ini, itulah awal dari kehancuran peradaban manusia.

* “Manusia tidak butuh Tuhan lagi, karena manusia sudah bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Contohnya, manusia sudah bisa menentukan jenis kelamin anak mereka sendiri. Manusia sudah bisa mencapai mars. Manusia adalah makhluk swasembada dan swadaya karena mereka bisa menentukan hidup mereka sendiri tanpa bantuan Tuhan.”
> Oh, mereka ini adalah fir’aun-fir’aun masa kini, yang menuhankan diri mereka sendiri. Dan mereka picik, kenapa? Karena mereka merasa bahwa Tuhan bekerja dengan cara manusia. Dan jika mereka sudah bisa melakukannya, mereka mengalahkan Tuhan. Coba saya tanya, apakah kalian bisa mencegah bencana alam di dunia ini? Apakah kalian bisa melawan flu burung? Yang paling gampang aja deh, dimanakah ujung semesta ini???

* “Tuhan terlalu kejam, sebetulnya Dia tidak Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Buktinya, Dia membunuh dan memberikan penderitaan kepada ummat manusia dengan tsunami dan flu burung yang merenggut jutaan nyawa.”
> Nah begini, ini lucu. Karena kalau manusia itu pintar, maka dia tidak berpikir secara partial. Apakah kalian tidak pernah berpikir, apa yang terjadi setelah Aceh terkena tsunami? Jujur saja, selain menangis, waktu itu saya tercengang. Saya baru bisa melihat orang Indonesia yang sudah terlalu ditutupi euforia metropolisme, hedonisme, dan liberalisme ini bisa saling membantu untuk menolong. Coba dipikir dengan baik-baik. Tuhan pasti punya alasan, dan kalau kita bisa melihat dengan jernih, maka kita akan terpana dan mengangguk mengerti. Ingat, Tuhan tidak bekerja dengan cara manusia.

* “yaa, saya cuman ga percaya Tuhan, titik.”
> yaa, sudah kalo begitu. Saya percaya, yakin, terpesona, dan cinta kepada Tuhan. T i t i k.

Well, itu beberapa alasannya. Saya tidak bisa menuliskan semuanya, karena pasti panjang banget. Tapi, kalau ada diantara yang membaca merasa ateis atau agnostik, saya membuka pintu lebar-lebar untuk berdiskusi. Tapi jangan tersinggung, kalau saya menolak intelectual gimmick anda.. Mungkin karena saya bodoh dan masih terlalu konvensional, he he he..

Begini sebenarnya, saya tidak mempermasalahkan siapa pun kalau mau jadi atheis. Cuman, yang saya permasalahkan, kalau ada orang yang merasa dirinya terlalu pintar dan benar, lalu menganggap bodoh orang-orang yang percaya Tuhan itu ada. Itu saja. Saya tau kok, ada beberapa orang temen saya yang atheis. Dan saya masih temenan kok ama mereka. Malah suka ngajakin tanding maen bilyard.

Dan oh iya, untuk temen-temen dari milis, maaf saya meninggalkan kalian waktu itu. Diskusi sudah tidak sehat, dan pola pikir kita sudah terlalu sempit. Ada hal-hal lebih penting yang harus saya kerjakan dari pada sekedar mencela waktu itu. Jadi, sekarang saya punya waktu cukup untuk membantah anda, dan semua tanggapan via email – komen – sms atau apapun akan saya coba balas 🙂
Tapi, dengan catatan. Ketika kita berbicara soal Tuhan dan agama, selama kita masih berbicara dengan logika dan bukannya hati, mending ga usah deh. Agama dan Tuhan –seperti halnya cinta– hanya bisa dimengerti dan diterima dengan hati.

Jadi, mengapa harus menyalahkan Tuhan atas kesalahan manusia sendiri?

Benarkah kata Freud, bahwa penganut agama adalah orang-orang yang mengalami neourosis dalam kategori oedipus kompleks? Saya yakin tidak. Saya malah berpikir, –sesuai dengan ucapan teman saya–, adalah kemungkinan bahwa Freud dan lainnya yang berusaha membunuh Tuhan (dengan T besar) adalah pengidap substansial schizoprenic.

Benarkan kata Nietzche dalam Also sprach Zarathustra, bahwa kita sudah membunuh Tuhan (dengan T besar)? Membunuh tuhan (dengan t kecil) sih iya, saya yakin.

Cogito, ergo sum — Saya berpikir, maka saya ada. Begitu, kata Descartes. Maka berpikirlah, bahwa sebetulnya Nihilisme itu omong kosong. Bahkan ketiadaan sendiri pun, sesungguhnya, ada 🙂

Nah, ibu saya pernah bilang, boleh berenang melawan arus, boleh juga mengikuti arus. Yang tidak boleh adalah, terhanyut sampai tidak bisa menepi lagi 🙂
(Ditujukan untuk orang-orang yang sedang mencari kekuatan untuk tetap bisa bertahan, melawan gejolak mekanika-kuantum yang menyeret ini.)

perasaan itu, dinamis..

Sudah lama saya tidak merasakan ke-dinamis-an, sekian lama diam jalan di tempat. Statis terhadap apapun, bahkan terhadap rangsangan dari luar. Tumbuhan, mengenal beberapa bentuk rangsangan, tapi yang terutama adalah sinar matahari; yang menjalankan proses kehidupan mereka. Pembuahan, adalah proses rangsangan juga, ketika benih-benih dari bunga lainnya dibawa terbang oleh angin menuju kembang mereka.

Tapi, sayangnya saya tidak berbicara dalam konsep pembuahan. Hehehe.

Bener kok, udah cukup lama saya gak merasakan sesuatu yang dinamis, yang melonjak-lonjak, yang memacu jantung ini untuk berdetak lebih cepat dari 80 detakan per menit.

Terlalu lama merasa nyaman terhadap sesuatu, yang sebetulnya sudah busuk. Sebagai seorang penganut post-modernism yang separuh hati, harusnya proses ini tidak terjadi.

Mencintai seseorang, kalau konstan terus menerus, akan mencapai kebosanan. Itu pasti. Jadi, perasaan itu sendiri sebetulnya harus dinamis. Grafiknya tidak harus naik melulu, juga tidak boleh turun melulu. Susah sih ya, seandainya ada software semacam PRTG untuk memonitor bandwith hati. Hehehe. Sorry, internal jokes between the networkers ^^v

Anyway, baru-baru ini saya mengalami lonjakan itu lagi. Dan rasanya luar biasa, err, luar biasa menyenangkan dan menyuntikkan energi baru.

Salah satu diantaranya, adalah seorang gadis yang bilang, kalo dia mau beli handphone. Lantas saya pun menemaninya untuk melihat-lihat. Survey, begitu bahasanya.

Dan begitu dia menemukan tambatan hatinya, dengan polosnya dia bilang, kalau dia baru bermaksud untuk menabung, dan membelinya 3-4 bulan lagi. Sumpah, sedikit lucu memang, tapi itu mengejutkan. Setidaknya, ya untuk saya sendiri.

Yah, untuk pertama kalinya, bukan cuma billiard acara yang bisa menghibur saya. Dia, entah bagaimana caranya, menyuntikkan semacam energi baru. Sampai-sampai (FYI, kemarin saya terbangun jam 4 pagi), setelah selesai mengantarkan dia pulang, mengantarkan seorang teman lagi keliling Bandung, dan setelah itu lanjut lagi berangkat ke buah batu (untuk yang nggak tau, itu jauh.. hehe), saya masih cukup punya energi untuk tidak tidur sampai detik ini. Dan hebatnya, masih bisa bekerja dengan baik tadi siang.

Luar biasa.

Yah, mari kita nikmati perasaan yang dinamis yang kita miliki. Saya tidak cuma berbicara cinta nih ya, bahkan mungkin perasaan terhadap dosen dan kuliah anda, terhadap manajer anda, terhadap orang tua anda, bahkan mungkin terhadap diri anda sendiri.

Happy new year, mates..
let’s spread the feeling, and let’s mesmerize the world…

Je t’aime, mon amour (part 1)…

HALAMAN PARKIR PLAZA MEDAN RAYA, tepat 5 menit setelah hitung mundur selesai tidak jauh berbeda dengan kebanyakan tempat lainnya di seluruh Indonesia dan mungkin di seluruh dunia, masih penuh sesak diisi oleh anak-anak muda yang sedang menikmati suasana pergantian tahun yang meriah.

Di langit malam Medan masih berpendar cahaya dari pecahan kembang api yang berwarna-warni yang bermacam bentuk. Suara terompet masih terdengar dimana-mana, seakan mengiringi hentakan musik rock dari panggung sebelah timur gerbang. Sedemikian bersatunya irama yang tercipta, sehingga dari jauh terdengar seakan-akan yang beraksi di atas panggung adalah band ska.

Semua orang merasakan semangat dan aura yang tersebar, aura tahun baru. Semuanya, kecuali dua orang yang terlihat sedang bertengkar.

“Lebih baik sekarang kamu jujur sama aku Roy,” gadis itu terisak sambil menyeka air matanya, “kamu memang pacaran sama dia kan?”

“Kenapa kamu lebih percaya sama orang sih dari pada pacar kamu sendiri? Aku nggak habis pi–”

“orang lain kata kamu?” Sorot mata gadis itu tiba-tiba menajam, “ORANG LAIN?? Aku mergokin kamu jalan sama dia di 21 Roy!!”

Sontak raut muka laki-laki yang dipanggil Roy itu berubah. Dia sama sekali tidak menyangka kalimat itulah yang akan keluar. “Tapi Fi … aku sama dia cuman temenan aja kok, kamu gak boleh berprasangka buruk begi–”

“Emang temen pelukan kalo lagi ngantri tiket Roy? Emang temen itu saling mencium satu sama lain? Emang temen..” Gadis itu tidak sanggup meneruskan kalimatnya, “..emang temen masuk ke hotel berdua??” Fia tenggelam dalam tangis. Walaupun rambutnya yang panjang menutupi wajah karena sedang menunduk, tapi isak tangisnya terdengar begitu jelas.

Roy terlihat serba salah. Dia merangkul gadis disampingnya perlahan –seolah-olah yang disebelahnya adalah granat yang siap meledak begitu salah sentuh, tapi gadis itu terlihat tak perduli.

~~~~~~~~

Deo mengajak Fia makan siang di Kafe Air Mancur yang terletak di lantai 5 Plaza Cahaya. Sebetulnya, ada satu lagi cabang kafe ini, masih di dalam kompleks plaza yang sama. Hanya saja, tempatnya terlalu kecil, dan sekelilingnya hanya ditutupi oleh kaca yang tembus pandang. Kurang privasi, begitu Deo menganggapnya.

Sayap timur kafe itu terlihat sepi, hanya ada Deo dan Fia yang duduk di pinggir jendela. Deo selalu menyukai kafe ini –khususnya meja yang sedang ia duduki, karena dari jendela dia bisa melihat jalan Gatot Subroto dari atas. Dan tentunya yang paling utama, karena Fia tergila-gila pada es krim kafe ini.

“Kenapa sih Deo masih nunggu Fia? padahal kan Fia udah nyakitin Deo?”

Nyakitin? Emangnya Fia nyakitin Deo?” Yang ditanya memandang bingung.

“Maksudnya Fia, kan Fia nggak pernah bisa ngebalas cintanya Deo. Terus, ya … yang dulu-dulu itu deh Yo…” Fia memainkan ujung rambutnya.

Deo mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu. Sesaat, dia terbawa dalam lamunannya.

Ketika itu Jakarta sedang macet, maklumlah, jam pulang kantor. Deo terjebak macet di daerah Sarinah. Sembari menunggu, dia membaca materi presentasi untuk persiapan R U P S minggu depan. Bahkan disaat office boy pun libur, aku masih harus tetap bekerja di kantor besok, Deo memaki dalam hati. Betapa awal tahun yang sempurna.

Saat dia sedang mengoreksi materi presentasinya itu, tiba-tiba sebuah S M S masuk, dan wajahnya langsung berubah.

Deo lagi ngapain? Fia lagi sedih. Ken selingkuh ama cewek lain.
Yo, Fia gak tau harus ngapain.. Fia……
sender:
Dream (+6281120021984)

Refleks setelah membaca S M S dari tersebut, dia langsung berusaha menelpon Fia. Sial, mailbox! Deo mengumpat.

Konsentrasinya buyar. Dari belakang mobilnya terdengar suara klakson dan orang yang memaki. Perlu 3 detik sampai Deo akhirnya mengambil keputusan dan akhirnya menginjak pedal gasnya. Hanya ada satu tempat yang ada di pikirannya. Bandara.

Sesampainya di bandara, Deo langsung bergegas membeli tiket pesawat. Tak dihiraukannya lagi suasana yang sangat ramai di sekelilingnya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Biasanya Deo selalu menikmati saat-saat setelah check-in, sambil melepas lelah. Tapi tidak kali ini, seluruh proses yang harus dilewatinya terasa begitu menyiksa.

Sesampainya di Bandara Polonia, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Deo langsung menghubungi rumah Fia, dan ternyata persis seperti dugaannya, yang menjawab telepon adalah mamanya Fia. Setelah menutup flip handphone-nya, tanpa banyak berpikir Deo langsung masuk ke dalam taksi.

“Plaza Medan Raya, pak! Tolong cepat ya!”

Sepanjang jalan Gatot Subroto macet total, taksi yang ditumpangi Deo terhenti di sebuah menara jam besar di depan Yumi Plaza, tepat di simpang lima Glugur. Deo akhirnya memutuskan untuk turun dan berlari menerobos kerumunan orang.

Begitu tiba di halaman Plaza Medan Raya, Deo melihat lautan manusia. Dia tak tahu harus melangkah kemana untuk mencari Fia. Dalam kebingungannya, Deo memejamkan matanya. Dan entah bagaimana, ada semacam kekuatan yang mengarahkannya.

Hatinya bergetar, tak jauh di depannya dia bisa melihat Fia. Dia berjalan untuk mendekati Fia, tapi tiba-tiba, persendian lututnya terasa lemas, kakinya tak dapat bergerak. Seorang laki-laki memeluk gadis pujaannya, di depan matanya.

“Yo! Deo!” Suara Fia menyadarkan Deo dari lamunannya. “Aah, tu kaan, Fia ngomong gak didengerin … BT ah,” Fia merungut, “lagi ngelamunin apa sih?”

“Hehehe, nggak kok … Fia nanya apa tadi?” Deo mendehem.

“Duuuh, Fia nanya, setelah apa yang Fia lakukan ama Deo,” gadis itu menunduk, “kenapa Deo masih nungguin Fia?” Suaranya terdengar lirih.

“Deo nggak tau Fi … mungkin,” Deo menarik nafas dalam, “karena Deo nggak pernah bisa ngelupain Fia.”

Sunyi.

“Tapi Yo, apa Fia memang bener-bener … pantas untuk ditunggu?” Fia menyeruput ice cappucino-nya. “Gimana kalo ternyata Fia nggak pantas untuk ditunggu?”

“Berarti, gak ada wanita lain juga yang pantas untuk Deo perjuangkan. Dan mungkin, udah sepatutnya Deo hidup selibat aja.” Deo menatap wajah Fia dalam-dalam. Fia menunduk malu.

Deo mengeluarkan selembar kertas, dan meletakkannya di atas meja. Wajah Fia terlihat bingung, tapi dengan penasaran dibukanya juga lipatan kertas tadi. Sebuah puisi! Fia terkesiap. Dia membacanya perlahan.

suatu malam yang kuingat jelas,
aku sedang memandangi langit malam
menunggu bintang jatuh,
mencuri-curi saat untuk membuat sebuah permintaan

lalu aku melihatmu……

bayanganmu berpendar sejuta warna.
kau melesat secepat mahacahaya..

berliuk indah dengan penuh keanggunan,
menukik dengan sempurna..
lalu pecah menjadi jutaan titik kecil,
melukis langit dalam waktu beberapa detik.
dan seisi jagad raya terpana…

saat itu, aku melihatmu dimana-mana.

malam itu, aku jatuh cinta….

“Tuhan, aku ingin hidup dengannya..” hatiku yang berkata.

malam itu, 329 hari yang lalu.
dan hingga kini, tak ada yang berubah dalam setiap doa malamku…

Je t’aime, mon amour… toujours….

Deo terlihat seperti menunggu sebuah jawaban. Namun Fia diam saja, lama sekali. Sesaat kemudian, bibirnya tersenyum. Pipinya memerah.

Sunyi lagi. Diam berbahasa.

(to be continued………)