saya memilih untuk tidak memilih

Perkenalkan, nama panggilan saya Deo. Well, nama lengkap saya Deon Maxwell Plank, dan bagi kalian yang mengerti fisika, tentu akan tersenyum mendengar nama saya. Mungkin kalau ibu-ibu hamil biasanya ngidam mangga muda, ibu saya waktu sedang mengandung saya ngidam untuk ikut olimpiade Fisika.

Saya sebetulnya bukan Fisikawan, bahkan saya tidak kuliah di jurusan Fisika. Tapi saya suka dengan hal-hal baru, dan fisika kuantum menawarkan segalanya untuk saya.

Mungkin, beberapa dari anda sudah berkenalan dengan saya secara tidak langsung, bagi yang belum, mari kita berkenalan lagi. Nama saya Deo, kalau nama anda?

Baiklah, tidak usah basa-basi lagi ya. Saya ini sebetulnya orang yang sangat galau, mengalahkan galaunya seorang vokalis stereofoam yang terkenal sangat galau itu. Dan dari seluruh alasan kegalauan akan hidup ini, saya memilih yang paling sempurna; cinta.

Saya percaya bahwa tidak ada hal di dunia ini yang sempurna, dan tidak ada hal di dunia ini yang mutlak tunggal. Mencoba merujuk kepada konsep dualitas-nya Einstein walaupun dengan implementasi yang berbeda, semua hal memiliki lawannya masing-masing.

Begitu juga hati, begitu juga raga, begitu juga cahaya, begitu juga cinta.

Jika demikian, maka pilihan pun ada lawannya, jadi saya memilih untuk tidak memilih. Itu tidak salah kan? Karena tiba-tiba terkuak sebuah jawaban sederhana dari misteri yang begitu besar tentang alam semesta dan jagad raya ini.

Ternyata apa yang saya alami selama ini tidaklah mudah untuk dicerna, saya saja sulit mengerti, apalagi anda 🙂 Ternyata semua ini hanya fatamorgana, tak ada hal yang begitu nyata untuk bisa dipercaya, dan tak ada hal yang begitu mustahil untuk dapat dinafikan. Hidup ini harusnya dinikmati, bukan dijadikan benturan-benturan demi mengulangi teori big-bang yang tersohor itu.

Dan indahnya, teori big-bang itu sendiri dibentuk oleh 2 unsur. Materi, dan AntiMateri.

Begitu pula hidup ini, begitu banyak hal yang saya cintai. Tapi ada satu rutinitas yang saya paling tidak suka dalam hidup ini; tidur.
Memang, jumlah oksigen di otak akan menurun dengan drastis apabila kondisi tubuh sedang letih, lalu reflek mata akan terasa berat dan selanjutnya, menguap. Dan berbeda dengan hampir 99% seluruh ummat manusia yang menghuni bumi ini, ketika saya menguap saya tidak ingin untuk tidur, malah cenderung berusaha keras agar tetap terjaga, selama berhari-hari.

Sekedar informasi, rekor saya paling lama tidak tidur adalah 9 hari nonstop, tanpa tertidur sedetikpun. Rata-rata saya tidur 3 hari sekali, itupun kalau sudah terlalu banyak pikiran.

Saya benci tidur, karena di dalam mimpi saya memperoleh banyak jawaban. Jawaban yang selama ini saya cari, tentang dimana saya akan bisa berhenti berjalan, dan menikmati sisa hidup sambil sesekali menggubah beberapa bait puisi di pagi hari. Dan ternyata jawabannya terpampang jelas di dalam mimpi, bahwa tempat yang selama ini saya cari, ada di awal perjalanan.

Bukankah itu mengesalkan? Untuk apa berjalan jauh-jauh kalau akhirnya akan kembali lagi ke awalnya? Ataukah sebenarnya dari awal saya sudah tahu bahwa awal itulah yang akan menjadi akhir, tapi saya tidak mau mengakuinya? Itu bisa saja, karena toh saya sudah memilih untuk tidak memilih, bukan?

Ternyata, semua pertanyaan saya yang sangat kompleks tentang teori kosmik, paralelitas dimensi yang sebenarnya saling bersinggungan, dan –ini yang paling rumit dari semuanya– kemajemukan yang sebetulnya adalah tunggal, terangkum dalam sebuah jawaban sederhana..

Tepatnya, sebuah nama yang sangat sederhana.

Karena itulah saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya bermimpi tentang jawaban itu. Jawaban yang tidak pernah rasional jika dipikirkan bahkan jika dihitung dengan perkalian setingkat bilangan Quadrillion berkuadrat Quadrillion. Jawaban yang kelihatan sebesar alam semesta ini, tapi ternyata tak lebih besar dari unsur sub atomik paling kecil dengan satuan yocto. Jawaban yang batasnya tidak memiliki ambang, dan ambangnya tidak memiliki batas.

Sebegitu sulitnya kah untuk menerima cinta?

*** cukuplah sudah cinta ini dipaksakan,
*** nyatanya begitu nyata alurnya seperti ini..
*** betapa tidak adilnya mencoba untuk menafikan,
*** ketika kau begitu indah untuk dipahami…
***
*** tidak pernah sedetikpun aku tak mencoba,
*** mencoba memahami keindahan tanpa menjadi getir..
*** tapi ternyata apa yang ada tak pernah benar-benar ada,
*** sebagaimana butiran air di tengah gurun pasir…
***
*** sudah saatnya kita bisa mengerti,
*** bahwa cinta hanya bisa diterima dengan hati…

Maka lantas saya melatih otot-otot dan sistem saraf saya untuk melawan kodrat alam, seakan saya mengingkari bahwa raga ini milik Sang Maha Tunggal, yang ketetapanNya dituliskan dengan begitu anggun dengan penuh metafora –dan lagi-lagi dua hal yang berlawanan– matahari dan bulan.

Saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya memimpikan dia, dan saya menginginkannya untuk selamanya. Lalu dia akan selalu hadir di setiap depa dari seluruh jarak perjalanan saya.

Seumur hidup, percaya atau tidak, saya baru satu kali jatuh cinta. Dan celakanya, gadis ini tidak pernah mengerti kalau saya mencintainya. Saya memang tidak pernah bisa mengungkapkan kalau saya mencintainya, tidak pernah ada kesempatan, dan tidak pernah ada keberanian. Dan kini, sudah genap 8 tahun sejak pertama kali saya jatuh cinta dengannya, dan tetap, saya masih belum punya keberanian untuk menyatakan cinta saya kepadanya.

Bagi saya, cinta adalah sebuah konsep yang terlalu utopis untuk diwujudkan, karena tidak ada hal yang mutlak di dunia ini bukan? Begitu pula dengan cinta. Dan percayalah, dari semua kehilangan yang pernah dicatatkan dalam sejarah manusia, kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan.

Maka seumur hidup saya pula tak pernah berhenti belajar mengepakkan sayap, hanya untuk bisa terbang menembus awan dan melintasi jajaran bintang-bintang, lalu melesat secepat mungkin ke ujung semesta … hanya untuk melupakan cinta saya kepada seseorang yang nyaris sempurna, seorang Alifia Soraya.

Tapi jujur saja, bahkan di ujung semesta pun namanya masih terukir di jutaan bintang yang menghiasi angkasa raya. Lalu saya harus bagaimana?

kotak penuh kenangan

*** kalau bisa aku umpamakan atasmu,
*** perasaan rindu ini bagaikan udara..
*** untuk tetap hidup, aku membutuhkannya tanpa henti..
***
*** aku menginginkanmu untuk selamanya,
*** tapi udara bukan milikku saja..

Sekitar 1 tahunan yang lalu, saya pernah berkenalan dengan seorang cewek. Awalnya kita kenalan via friendster (what else?), dan pertama kali kita janji ketemuan –wether you believe it or not, adalah di sebuah tempat praktek dokter.

Kebetulan, waktu itu dia sedang flu, dan bisa dibayangkan betapa anehnya suasana yang tercipta. Dia sedang flu, jadi kita saling menjaga jarak, baru pertama kali ketemu, dan di praktek dokter pula; dimana kalo kita ketawa ngakak-ngakak orang sekeliling akan memandang dengan tatapan aneh dan ingin melemparkan botol obat yang baru mereka tebus 🙂

anyway, sebut saja namanya Kiki (bukan nama sebenarnya). Saya biasa manggil dia ***, dan begitu juga dia membahasakan dirinya sendiri ketika sedang berbicara. Awalnya, via email, kesan yang tertangkap dari seorang Bunga adalah, cewek metal gothic yang antisosial dan kemungkinan besar memuja setan. Tentu saja, agak menakutkan, tapi berhubung kemudian ketika sakit dia masih pergi ke dokter (instead of pergi ke dukun…) ada satu kecemasan yang berkurang.

Jadilah, saya menjemput dia sepulang kantor. Gak usah kita sebutkan lah ya dimana dia bekerja, yang jelas perusahaan itu adalah perusahaan telekomunikasi GSM terbesar di Indonesia yang mengeluarkan produk berupa Simpati Hoki, Kartu Halo dan AS ^_^

dan, ketika dia muncul, jreng jreng jreeeeng, DIA CANTIK SEKALI!!! sumpah deh, cantik banget. Singkat kata, saya nganterin dia ke dokter, dan makin lama saya di dekat dia, dia makin mempesona. Aduhai, seperti terserangat lebah rasanya…

Akhirnya, kita jadi agak sering smsan, telpon2an, dlsb.

Empat bulan kemudian, adalah waktu yang sangat menggelisahkan, dimana setiap hari di kantor saya sering melamun tentang dia. Waktu makan siang, adalah waktu yang efektif, karena kebetulan kantor kita berdekatan (kawasan Asia Afrika).

Dan satu sore, saya ngajak dia ketemuan di salah satu kafe; masih di bilangan Asia Afrika. Maksud hati adalah untuk melakukan penembakan, dimana diharapkan orang-orang yang ada di kafe tersebut akan mendukung tindakan penembakan ini. Tapi apa mau dikata, ternyata dia dateng dengan temen-temennya (ini adalah satu hal yang saya sulit mengerti dari wanita, kenapa mereka suka datang bergerombolan, bahkan saat ada seorang laki-laki yang menunggu dengan gelisah). Akhirnya, rencana awal dibatalkan. Gagal total.

dan, setelah itu, kita masing-masing sibuk dengan kerjaan. Saya sering mondar-mandir keluar kota, begitu juga dia. 3 bulan kemudian, status di friendster-nya bukan lagi single, tapi in a relationship.

Tapi itu belum tragis. 2 bulan kemudian, saya menerima undangan pernikahannya…….. dan, jujur saja, saya nggak sanggup hadir. Bukan karena patah hati berlebihan, tapi karena penyesalan yang terlalu dalam. Kenapa sore itu, saya nggak melakukan penembakan?

kenapa…..? (merenung dalam dan lama)

Sekarang, yang tersisa cuma kenangan. Hanya bisa tersenyum miris waktu ngeliat foto-nya. hanya bisa membaca bulletin board yang dia tulis secara diam-diam, lalu tersenyum penuh arti sambil berkata dalam hati: kamu masih suka makan steak di kafe itu ya?. Hanya bisa menghela nafas berat, saat dia menulis 20 nama yang paling berarti untuk dia, dan nama kita tidak tertulis disana.

Penyesalan, adalah hal yang paling menyiksa dalam hidup. Sama menyiksanya, seperti ketika kita mencintai seseorang, tapi kita tidak bisa mengungkapkannya. Tentu saja, hal yang paling menyakitkan adalah, kita menyesal tidak mengungkapkan cinta kita kepada seseorang, dan momen itu berlalu begitu saja.

Postingan ini, didedikasikan untuk mengenang orang-orang yang pernah kita cintai. Tak terhitung momen yang tersimpan di dalam otak kita, dan siap meledak seketika saat sebuah lagu kenangan terdengar tanpa sengaja. Entah itu McD, Foo Fighter, sebuah jalan di Bandung, atau apapun lah.

Hiduplah dalam kenangan, dan belajar dari kegagalan.. agar kita bisa belajar mensyukuri apa yang nantinya kita punya 🙂

apakah kalian punya penyesalan, karena tidak mengungkapkan cinta kepada seseorang?

reality show..


Pre-post:
menjawab pertanyaan di postingan lalu, seterah = terserah

*******************************************************************

Jean Baudrillard pernah mengatakan, bahwa kita manusia di jaman postmodern akan mengalami apa yang dinamakan dengan “the death of the real”.. yaitu disaat kita hidup kita akan sangat terhubung dengan apa yang disebut sebagai hiperreality, yang dideskripsikannya pada tahun 1983 sebagai sesuatu yang lebih “real” dari yang “real”, seperti televisi, virtual reality games, ato yang paling sering dicontohkan adalah DisneyLand..

mungkin baudrillard bener, kita memang sudah mengalami masa itu.. MTV mungkin adalah ramalan baudrillard yang paling gampang dilihat..

tapi, satu hal yang menimbulkan hirarki baru dari hiperreality tersebut adalah reality-show.

mungkin karena, sebetulnya hiperreality itu sendiri adalah “real” diatas yang “real”.. nah, jadi ketika reality show ada, maka jadinya “real” diatas yang “real” dari yang “real”.. hiperreality itu melingkupi hal-hal yang direka untuk mendekati kenyataan, jadi rancu dong reality show sebagai salah satu produk hiperreality.. hiperrealitas yang repetitif.. hehehehe…

gak perlu lah kita bahas lebih dalam tentang hiperreality, karena nanti bisa jadi handnote kuliah pula postingan ini.. belum lagi kalo dibahas dan direview oleh orang2 yang akar postmodern-nya lebih kuat dari saya (melirik bang an).. ampyunn…

sekarang, lebih enak kalo kita lihat fenomena-nya aja.. walopun tetap gak pantes disebut fenomena lagi, karena, menurut kata turunan adjektif-nya, fenomena berarti sesuatu yang luar biasa.. reality show udah gak luar biasa lagi.. dah biasa..

dasar, si poetra memang suka meribetkan sesuatu.. hehehe..

lanjuttt…. sekarang kan banyak banget tuh reality show.. dari mulai yang dapet duit, ngerjain orang, minta maaf, sampe kawin..

jadi kepikiran, mungkin suatu saat nanti reality show akan dijadikan pekerjaan.. kurang lebih, beginilah skema-nya..

– gak punya pacar? bingung cari pacar? ikutan mak comblang

– calon sudah ketemu, tapi gebetan minta penembakan yang mewah dan kreatif? tinggal ikutan katakan cinta..

– 3 bulan setelah penembakan diterima, mulai curiga ama pacar? pacar mulai susah ditemui? daftarlah segera sebagai peserta H2C

– pacar mulai rewel? udah mulai bosan? pengen nyari alasan putus tapi gak ketemu? ikutan playboy kabel. kalo udah putus, ulang lagi dari langkah pertama.

– marahan ama pacar gara2 dimasukin playboy kabel tapi gak terbukti? terus berantem? ikutan susahnya minta maaf

– udah berencana nikah dalam waktu dekat, tapi belom punya kerjaan? ikutan uang kaget, ato nggak uang greget, ato duit modal

– modal udah ada, usaha udah ada, tapi calon mertua menuntut supaya punya kerjaan tetap? ikutan ari wibowo cari pembantu

– kerjaan udah ada, mertua nuntut satu lagi, harus punya rumah! pusing? jangan.. ikutan penghuni terakhir

– rumah udah ada, kerjaan udah ada, blom punya mobil.. jangan khawatir, ada touch the car.

– sudah cukup mantap? udah punya kerjaan, rumah, mobil dan kebelet nikah? calon mertua sudah mengijinkan? ikutan nikah gratis

– kontrak jadi pembantunya ari wibowo udah abis, kepingin jadi artis tapi ga ada jalur ke label? tenang, ga usah bingung.. ada banyak pilihan, ikutan menuju dapur rekaman ato AFI kalo pengen solo, boleh juga ikutan dream band biar bisa jadi rockstar INSTAN.

– sudah jadi artis, dan istri kepengen ikutan jadi artis juga.. kasi program makan-tidur-makan supaya berat badannya naik, dan daftarkan menjadi peserta miss impian

– udah hidup enak ala rockstar, tapi duit selalu habis untuk dihambur-hamburkan? takut gak punya peninggalan untuk anak cucu? tenang… warisan 1 milyar, siap memecahkan masalah anda..

nah, gampang kan? di jaman yang sulit ini, kita harus bisa memanfaatkan kesempatan..

tapi bagaimanapun, ada hikmahnya kok fenomena reality show ini..
pas aku lagi jalan bedua ama temen yang udah punya pacar (kita sebut aja si maman), pas kita lagi makan di satu tempat, ada cewek cantik yang ngajak kenalan gitu.. eh, ujug-ujug si maman langsung nolak dan langsung ngajak pergi..
nah lho?
ni anak biasanya playboy..? (udah pada tau lah ya, poetra sih nggak 😉 baru ternyata dia bilang, “gue ngeri aja put, kalo ternyata tu cewek penggoda dari playboy kabel”

hoehoehoeheo…

jadi kepikiran lagi satu hal, andaikan, jumlah kepala keluarga di Indonesia yang dikategorikan menengah kebawah itu ada 16 juta orang, dan jumlah reality show yang ada itu sekitar 40, maka dalam jangka waktu 33000 tahun semua kepala keluarga menengah kebawah tadi kebagian rejeki..

well, ishhh, lama juga ya..?

ah, di postingan depan kita bahas deh gimana caranya mengentaskan kemiskinan dengan melibatkan infrastruktur korporasi-korporasi di Indonesia..

btw, kalo dikasih kesempatan nih, pengen bikin reality show apa?

kenapa oh kenapa..?

CUKUP!

Saya menyerah. Terserah mau dibilang apa kek, mau bilang saya bajingan kek, playboy kek, penipu kek, pembohong kek, seteraaaaaahhhh!

Gimanapun, kafilah menggonggong, anjing tetap berlalu… mudah2an…

Tentunya, kita pasti bisa saling mendewasakan diri dengan saling mengumbar kata-kata pedas. Anak-anak TK buktinya gak pernah saling nyindir, makanya mereka disebut anak-anak. Semakin pedas kata-kata yang kita keluarkan, semakin menakutkan sumpah serapah yang kita ucapkan, semakin dewasa kita.

so, terserah deh………..

tabik, tuan singh!

“maksud hati ingin memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai..”

Begitu kata sebuah ungkapan lama soal keinginan. Nggak semua apa yang kita mau, bisa kita dapatkan. Begitu pula kira-kira soal keinginan untuk berdiri sendiri dalam naungan sebuah domain, maksud awal yang dituju beberapa waktu yang lalu saat memutuskan untuk menutup blog ini. Tapi, apalah daya, ternyata komputer kantor terformat secara “tidak sengaja” oleh salah seorang rekan saat saya berada di Medan.

Dan disinilah saya kembali, kembali memutuskan untuk menjadi musuhnya Pak Diki =)

tabik tuang singh! hehehe..

OK. Cukup berbahasa sok bijaksana seperti di atas 🙂

Baru beberapa hari sampe di Bandung, dan masih malas untuk memulai kegiatan. Jadilah 2 hari ini diisi dengan mengecat kamar yang baru. Dan sekedar informasi, mengecat kamar itu melelahkan! hehehe..

Perjalanan pulang ke Medan kemaren, adalah hal yang sangat berpengaruh. Sebuah perjalanan yang sarat dengan nilai-nilai sentimentil (memories, memories and memories), filosofis (lotsa discussion), spiritual (lotsa questions about God, but not like another electronic cinema a.k.a sinetron), dan banyak hal lagi..

ya sudahlah, nanti kita sambung kapan-kapan. Sebetulnya dari otak ini udah ada beribu kalimat yang mau menyembur keluar, tapi apa daya saraf-saraf motorik di badan masih terlalu capek. So see you guys and girls on the next posts.

Glad to be back here, dan akan ditutup dengan sebuah kalimat yang mungkin agak basi,

Hows life, mate..?