see you later,

hi mates..

it seems, that I will be offline for a few weeks.. I have several problems to be dealed, and a bunch of tasks to do.. so, if you need to contact me, I think I will be available in my email 😉

see you all later…..

^_^

pemimpi subuh (part 2)

Deo uring-uringan, sudah 2 hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, otaknya penuh pertanyaan dan pernyataan. Permasalahan hubungan cinta dengan pacarnya saat ini jadi issue paling besar dalam hidupnya..

Oh tidak, cinta lagi.. selalu cinta.

Ada apa sih sebetulnya dengan Deo? Apa yang jadi masalah sebenarnya?

Deo adalah tipikal orang yang punya kesibukan luar biasa, orang yang punya banyak sekali waktu untuk bekerja, sedikit waktu untuk beristirahat, dan hampir tidak ada waktu untuk yang lainnya. Inilah sebenarnya awal mula mengapa dia menjadi orang yang dingin dan sedikit anti-sosial dalam bergaul, bukan karena dia tidak memiliki keinginan untuk jadi “pengusaha gaul”, tapi sering kali, jika Deo sudah kurang istirahat, dia jadi gampang marah tanpa sebab yang pasti, maka dari itu, dia tidak ingin diganggu siapapun..

semua teman-teman dekatnya tau kebiasaan itu, maka jika instensitas Deo tersenyum hanyalah dua atau tiga kali dalam sehari, atau jika Deo hanya menjawab pertanyaan dengan singkat dan padat, maka tidak akan ada yang berani mengganggunya..

bad habit, yang berpengaruh buruk pula terhadap kehidupan cintanya..

Sudah beberapa hari ini, Deo sengaja menghindari Ayya.. dia terjebak dalam paradigma putusin-jangan-putusin-jangan walaupun kali ini tanpa menghitung kancing..

Di satu sisi, Ayya adalah gadis yang sangat baik, Ayya tidak pernah mengecewakannya, Ayya selalu ada jika dia butuhkan. Disisi lain, Deo tidak pernah bisa benar-benar jatuh cinta lagi kepada orang lain, karena sebenarnya, Deo masih belum bisa melupakan mimpi-mimpi masa lalunya..

Deo mengenal Ayya pada sebuah acara di Australia 6 bulan yang lalu, 2 bulan setelah terakhir kali dia bertemu dengan Fia. Saat itu Deo sedang menjajaki kemungkinan untuk melebarkan perusahaannya kesana, sementara Ayya sedang liburan. Saat itu Deo sedang mencoba melupakan Fia, sementara Ayya sudah lama single.

Deo sendiri sebetulnya waktu itu sedang tidak berusaha untuk mencari pengganti Fia di hatinya.. saat pertama kali bertemu dengan Ayya pun, Deo tidak merasakan sesuatu hal yang istimewa. Dan tiba-tiba waktu berjalan dengan sangat cepat, tanpa disadarinya, dia sudah berstatuskan “MILIK AYYA”.

Sebetulnya, 2 bulan pertama semuanya berjalan lancar, Deo mulai mencoba untuk menyayangi Ayya.. sampai akhirnya, Deo menyadari bahwa Ayya punya sifat keibuan yang sangat besar, sifat ngemong, Ayya harus tahu bagaimana kabar Deo setiap hari, Ayya yang over-protective kepada Deo.. dan hal itu agak sedikit mengusik Deo. Sampai akhirnya, Deo menyadari bahwa selama ini, dia suka kepada Ayya, dia menaruh hati kepada Ayya, dan Deo terlalu memaksakan untuk mencoba jatuh cinta kepada Ayya..

Dan hari ini dia sadar, dia gagal..
Deo mengambil organizernya, mencoba menulis sesuatu untuk Ayya..

Maafkan aku, kekasih hatiku..
Telah duakan cintamu dalam hatiku..
Meski tak didalam hariku..Sesungguhnya aku, masih belum bisa lupakan dia,
Yang telah lama kuharapkan kan jadi milikku..
Mungkin kau pun tahu..

Apalagi yang akan kukatakan,
Saat cinta tak mungkin kan bertahan,
Tak sanggup kusakiti kau lebih lama lagi..
Mencintaimu, tak lagi indah…

“Deo lagi nulis apa sih, sayang? aku ke toilet bentar yah..”
“ya udah, jangan lama-lama ya..” Deo dengan nada datar.

Deo terlarut lagi dalam lamunannya di sudut sebuah kafe di seputaran Kemang, ketika sayup-sayup Deo mendengarkan homeband kafe itu membawakan lagu milik The-Cure, lagu lama yang dia hafal benar,

Oh Elise, it doesn’t matter what you do,
I know I’ll never really get inside of you..
To make your eyes catch fire the way they should,
The way the blue could pull me in,
If they only would.. If they only would..At least I’d lose this sense of sensing something else
That hides away from me and you..

dulu Deo tidak pernah mengerti apa inti lagu itu, namun kini dia mengalaminya sendiri..

“Deo..? jalan yuk.. kemana yah enaknya? Nonton aja yuk, ‘TIGA JAKA CINTA’ kayaknya bagus deh..”
“duh sori, aku gak bisa.. Aku harus nyiapin presentasi, ntar malem aku harus meeting..”

“tuh kaaaan, Deo sih sekarang gitu, sombong ih..”
“bukannya sombong, tapi aku beneran harus meeting ntar malam.. lain kali aja ya?”
“tapi ntar mau kan jalan ama Ery lagi..?”
“yaaa, kita liat ntar aja yah..”

Deo memanggil waiters, meminta bill.

Baru sesaat mereka beranjak dari mejanya, seorang pria berbadan kekar datang mendekati mereka berdua..

“Ery??”
“umm, siapa ya?”
“Hendry kan? Duuuuh, kemandang ajijah neeek, sombong deh yey sekarang yah.. mentang-mentang ada lekong cucok baru, lupita deh ama eike… kita pernah ketemu di salon JUWITA 2 minggu yang lalu, inget nggak?”
“Yaaa ampuuun.. Desi? Duuuuh, maap yah weitjeh, akika lupita bendera nek.. apa kabar sekarang? Makin cucok aja deh yey.. mwah.. mwah.” Ery menyalaminya dan mencium pipi kanan-kiri dengan gaya yang khas.
“uwwww, sapipa nih neeek lekongnya, cucok bambang siiih..”

Deo tersenyum simpul, “Ry, aku duluan yah..”

“iya deh, ntar tele-tele Ery yah..”
“daaah ganteeeeng..” Desi dengan tatapan nakal.

GLOSSARY:
– kemandang ajijah = kemana aja
– yey = kamu / eike-akika = aku
– lekong cucok = cowok ganteng
– lupita = lupa
– akika lupita bendera = aku lupa beneran
– sapipa = siapa
– cucok bambang = ganteng banget
– tele-tele = telepon-telepon

CATATAN PENULIS:
bener kata temen-temen yang laen, part 1 kemaren masih kosong banget, emang susah ternyata untuk motong-motong isi dari chapter yang sebetulnya satu cerita.. I’m working on it, guys 😉
actually, I’ve been working a lot untuk nulis buku kumpulan puisi, nah, ga tau kenapa sekarang banting setir mo nulis cerita, I know it’s difficult, tapi doain mudah2an bisa yah 😉

catatan si Syeo (alter ke 3 di dalam badan si poetra)
let me tell you something, kadang2 si poetra tuh khayalannya terlalu banyak, mimpinya juga terlalu banyak, dia bahkan gak pernah bisa nulis cerpen, sekarang mau nulis novel?? hehehe..

pencinta subuh (part 1)

Ada kalanya, dia bahkan tidak bisa mengerti kenapa dia terlahir di dunia ini.. ada terlalu banyak pertanyaan dalam otaknya; tentang Tuhan, tentang hidup, tentang kematian, tentang dimensi paralel ketiga, tentang teori kosmik, tapi kebanyakan, tentang cinta..

Besar di keluarga yang broken home, membuat seorang Deo banyak mencicipi pengetahuan dari jalanan.. yah, dia pernah menjadi pengamen, pernah tidur di emperan toko, pernah jualan makanan kecil.. bukan karena dia tidak memiliki uang, tapi karena dia muak dengan hedonisme..

Sekarang, Deo sudah banyak berubah.. umur yang sudah masuk ke 25 tahun, pengusaha sukses, orang yang lumayan dipandang di dunia per-enterpreneur-an.. tetap single karena tidak percaya dengan hubungan serius.. trauma berat masa lalu, hampir memasukkan Deo ke kalangan apatis cinta, masih untung dia tidak memvonis dirinya frigid.

hari ini, 29 januari 2008, jam 16:47 WIB, Deo bertemu lagi dengan cinta masa lalunya.. wanita yang selama 4 tahun belakangan dia jadikan sumber inspirasinya.. and so the story begin…
(di sebuah gedung milik salah satu operator GSM…)

Deo sedang berbicara dengan salah seorang costumer service, saat ketika secara tiba-tiba Deo terlepar ke dimensi paralel ke 4, dimensi dimana satu kali rotasi bumi mengelilingi matahari bukanlah 365 hari, tapi 1000 tahun. Dimensi tersendiri untuk orang-orang yang jatuh cinta.. dimensi slow-motion..

“Fff.. Fia..?” Deo, memberanikan diri.
“ummm…” yang dipanggil menyipitkan mata, mencoba mengenali. “Deo…?”

Tatapan mata itu, membawa Deo kembali terlempar ke masa lalu.. tepatnya pertengahan tahun 2004..
adalah seorang Alifia Najwa Azzahra; seorang gadis cantik berkulit putih, berambut panjang, bersuara merdu, yang membuat Deo meng-capture kembali semua gadis-gadis paling cantik-baik-manis yang pernah dia kenal, membandingkan satu persatu, dan kemudian men-delete semuanya kembali.. tak ada yang sanggup menandingi yang ini.

“Yo..? Deo..?” Fia, sambil bengong di hadapannya.
“eh sori, sampe dimana kita tadi?” Deo, sambil salah tingkah.
“sampe di bagian kamu manggil Fia.. kamu baek-baek aja kan Yo?” Fia, makin bingung.
“oh iya, sampe disitu ya? sori … udah makan belom, Fi?” Deo, makin salah tingkah, dan mencoba mengalihkan topik.

24 menit, 2 cangkir kopi, dan 2 piring nasi goreng kemudian…
“so, setelah jadi pengusaha sukses, jadi ikon dunia enterpreneur, kapan mo married Yo..?” Fia, tampang ceria.
“eh..? married? pacar aja ga punya..” Deo, tampang datar.
“jadi gay?” Fia, tampang curiga.
“heee? ya nggak lah…” Deo, tampang defensif.
“hampir Fi.. hampir saja..” Deo membatin.
“terus kenapa donk? emang nggak ada lagi cewek tipe kamu di dunia ini?” Fia, masih tampang curiga.
“sibuk kerja Fi, gak sempat mikirin cinta..” Deo, tampang datar.
“kalo aja ada yang lebih sempurna dari kamu, mungkin aku mau Fi..”
“pulang yuk.. kamu mau nganterin Fia nggak?” Fia, tampang memelas-manja.
“apa sih yang nggak untuk kamu…” Deo, dengan kalimat paling gombal sedunia.
“good job, Deo! mari kita lagi luka hati yang dulu”

Deo dan Fia, di dalam mobil, di depan rumah Fia…
“makasih ya mo nganterin Fia.. makasih juga untuk traktiran dan ngobrolnya di kafe tadi..”
“as I’ve told you, apa sih yang nggak kalo untuk kamu, Fi…” diam sebentar.
“Fi, besok ada acara nggak? nonton yuk..” dengan tatapan penuh harap sambil membatin,
“nice, expectation of a date is the perfect sweet suicide for you, deo!”
“apa sih yang nggak untuk Deo…”
Deo mulai merasakan sesak di dada, mulai mengharapkan cinta Fia lagi. Deo membuka organizernya, menuliskan beberapa kalimat disana,

kau adalah tetap yang terbaik selamanya,
dari dulu hingga sekarang..
tak pernah ada yang berubah..aku tuliskan untukmu satu kisah setiap hari,
kisah bagaimana aku merindukanmu,
kisah bagaimana aku mencintaimu,
kisah bagaimana aku mengharapkanmu…

untukmu,
akan kupetik 1000 bintang,
akan kujadikan penghias rambutmu..

akan kubawakan kau rembulan,
untuk penerang tidur malammu…

DEO
Beberapa minggu dan beberapa film kemudian, Fia tiba-tiba menghilang.. Telepon Deo tidak pernah diangkat, sms tidak pernah berbalas, dan Deo cukup sadar diri untuk tidak datang ke kantor Fia. Sadar akan kapasitasnya yang bukan siapa-siapa di dalam hidup Fia.

Deo hidup dalam kebingungan, tak tahu harus bagaimana lagi.. dia sudah terlanjur jatuh cinta lagi kepada Fia.. dan kini, haruskah dia mulai membuang rasa itu lagi? dan kalau sudah dalam keadaan penuh pertanyaan begini, Deo pasti akan berjalan kaki sendirian, tak ingin diganggu, HP di silent mode.

dan tanpa dia sadari, HP itu terjatuh.. Deo masih dalam lamunan.

FIA
Sehari setelah bertemu Deo, Fia merasa takut; takut akan jatuh cinta lagi, takut akan disakiti lagi, takut untuk percaya kepada makhluk yang bernama laki-laki..

sehari setelah bertemu Deo, Fia menyadari dia banyak berubah.
Fia yang biasanya rockband-groupies sejati, secara tiba-tiba berubah menjadi pencinta lagu-lagu mellow..
Fia tiba-tiba menjadi peduli jika berat badannya naik 2Kg.
Fia yang biasanya lincah, tiba-tiba sering melamun..

if ever you wonder,
if you touch my soul, yes you do..
since i met you im not the same,
you bring life in everything i do..just the way you say hello,
with one touch, i can’t let go..
never thought i have fallen in love with you..

….

the magic in your eyes, true love I can’t deny..
when you hold me, I just loose control..

I want you to know that i’m never letting go..
you mean so much to me, I want the world to see..
it’s because of you…..

Fia tersentak dari lamunan, matanya menerawang jauh, mencoba mengingat apa alasannya dia tidak pernah membalas sms dan telepon Deo.. Fia tidak bisa menemukan alasan yang jelas.

“mungkin aja Deo berbeda dari cowok-cowok laen.. mungkin aja Deo itu setia.. mungkin aja Deo bisa nyayangin Fia sepenuh hati.. Deo dari dulu baek banget, tapi, apa Deo gak pernah suka ama Fia yah?”

Fia menyadari Deo kini berarti untuknya..

Fia mengambil HPnya, mengetik pesan singkat:
‘Deo lagi sibuk nggak hari ini? kita jalan yuk..’

1 menit.. 2 menit.. 5 menit.. 20 menit.. 1 jam..

Fia membuat prejudice sendiri untuk menenangkan dirinya,
“mungkin aja dia lagi meeting..”

2 jam.. 2 jam 15 menit.. 3 jam 10 menit..

Fia tertunduk lesu, mematikan HPnya.. Fia membuat prejudice kedua,
“mungkin aja, Deo memang nggak pernah suka ama Fia..”

satu hari kemudian…

Deo baru sadar HPnya hilang, tapi apalah artinya, dia bahkan bisa membeli seisi toko HP dengan gampang..
apalah artinya, jika dibandingkan dengan Fia yang tiba-tiba menghilang..

Kosong, hampa, tidak ada semangat.. Deo tidak akan masuk kantor hari ini.. dia lebih memilih diam di kamarnya, melamun dengan satu-satunya lagu yang mengalun terus menerus dari komputernya,

I never asked for this feeling
I never thought I would fall..
I never knew how I felt,
till the day you were gone, I was lost…..

Oh I miss you so much,
I long for your love..
It’s scares me, Coz my heart gets so weak,
that I can’t even breathe..
How can you take things so easily,
baby why aren’t you missing me?

TLC – I miss you

TO BE CONTINUED…..
NB: (Note Book a.k.a Naporlu Botohon)
cerita ini adalah part dari salah satu chapter draft Novel yang lagi coba-coba aku tulis.. jadi kepengen nulis novel (kepengennya) 😀 tapi masih belajar, maklum, bukan penulis cerita yang baik 😉

akhirnya, satu pantun dari penulis..
“bunga anggrek bunga melati, cerita jelek jgn dicaci” ^_^

zzzz…

duh, capeeeeek banget deh.. sumpah deh….

3 hari belakangan ini, moodku jelek banget.. ga ada yang bikin suasana hati jadi bagus.. ketemu temen-temen, bukannya makin bagus moodnya, malah makin kacau.. mood bikin lagu juga ga ada sama sekali 🙁

nah, sekarang ini, pagi ini, udah ga ada energi lagi untuk mikir postingan yang berat-berat.. maklum, belum tidur dari kemaren.. padahal, biasanya jam 9 malem juga dah nguap-nguap…

le-ot ini udah agak disempurnakan, udah agak diperbaiki.. walaupun, aku tau, di beberapa browser pasti masih berantakan, harap maklum yeuh, belum sempat cross browser checking..
ntar-ntar aja yah 😀

AAAAARRRRGGGHHH, I really-really need a vacation 🙁