can’t we?

gw cuman kepikiran, can’t find a great fun chat friends anymore?

pagi ini gw lagi gak bisa tidur, jadi Online di warnet, bareng ama rei, drummer gw.. trus iseng-iseng ke Yahoo Chat rooms.. masuk channel demi channel, tapi gak ada satupun yang bisa diajak ngomong serius.. apa sekarang udah jamannya chatting only for sex?? heran deh gw..

tapi.. apa bener ya?

apa emang udah nggak bisa lagi chatting cuman buat ngobrol doank? cuman buat bicara soal keadaan politik di negara masing-masing? hueahuehuaehue

apa udah nggak ada lagi, yang bisa diajakin chatting?

probabilitas dan statistika

peringatan penulis:
kesamaan nama dan tempat adalah bukan rekayasa. penyimbolan nama tokoh adalah suatu kesengajaan, dikarenakan sifat pelupa penulis..

07.15 WIB
penulis bersiap-siap untuk berangkat dari kos, tapi naas penulis baru sadar bahwa ban depan motornya belum ditambal

07.20 WIB
penulis menyetop angkot berwarna biru terong jurusan cisitu – tegalega.

07.25 WIB
penulis dengan buru-buru menyetop angkot hijau dan langsung naik. setelah beberapa saat baru menyadari, bahwa yang dinaiki adalah angkot jurusan cicaheum – ciroyom.. langsung tepok-tepok jidat, dan bilang: “kiri a’…..”

07.27 WIB
penulis meyakinkan bahwa angkot sasaran yang didepannya adalah angkot jurusan cicaheum – ledeng, lalu dengan gagahnya naik ke dalam angkot tersebut.. buka buku potokopian bekal dari dosen, sok serius, baca-baca dalam angkot

07.45 WIB
tiba juga di depan kampus penulis, yaitu Universitas Pasundan yang terletak di jalan setiabudi (entah nomor berapa)

07.55 WIB
sampai di ruangan P. 401, berlokasi di lantai 4 gedung jalak harupat, ngecek daftar nama di depan pintu, lalu pasang muka kaget karena nama penulis ada embel-embel “BELUM LUNAS”.. lalu lihat nama yang diatas bawah, ternyata semua punya embel-embel yang sama.. menghela napas panjang, lalu masuk ke kelas..

08.02 WIB
pengawas memasuki ruangan ujian, pasang muka kaget juga karena peserta ujian hanya 8 orang. menguap sebentar (pengawasnya) kemudian membagikan kertas ujian, kertas buram dan lembar jawaban

08.09 WIB
penulis baru menyadari bahwa materi ujian tidak ada dalam buku potokopian pemberian pak dosen. penulis pun kemudian pasang tampang kesel karena diatas lembaran soal tertulis “BUKU TERTUTUP”

berikut adalah makian dalam hati sang penulis: “anj*it!! sialan!! kumaha iyeu teh? mosok wes gak ono bahan’e, buku tertutup meneh!! edian!!”
*harap maklum, penulis adalah manusia campuran batak – melayu – padang yang lama tinggal di jogja dan kini menetap di bandung*

08.25 WIB
lirik kanan – kiri, curi – curi pandang.. seisi kelas garuk-garuk kepala, harapan sudah punah..

08.27 WIB
semua mata tertuju ke pojok kanan, ada seorang makhluk botak yang dari tadi tidak diperhatikan begitu asik menulis jawaban, harapan semua peserta ujian kembali tumbuh, mentari terasa bersinar kembali

08.35 WIB
dosen penguji masuk ke ruangan, mendadak suasana sunyi senyap, serasa mencekam walaupun tanpa suara lolongan serigala hutan

08.38 WIB
dosen penguji keluar ruangan. tanpa diduga sang pengawas berkata lirih “galak ya dosennya..”
seisi ruangan memanjatkan puji syukur, karena ternyata sang pengawas bisa diajak berkompromi
apabila pengawas ruangan anda mulai mengajak anda untuk berdialog, maka itu adalah tanda-tanda bahwa akan terciptanya suasana belajar-mengajar di ruangan ujian

08.40 WIB
penulis melihat sekilas lembar jawaban si makhluk botak tadi, lalu dengan cepat mencoba mengingat-ingat pelajaran yang pernah diberikan pak dosen.. sayangnya, jawaban pertanyaan nomor 4 yang berbentuk teori (bukan hitungan), tidak bisa ditemukan penulis dalam memorinya

08.42 WIB
mulai menulis..

09.12 WIB
nomor 1, nomor 2, dan nomor 3, dan sepertiga jawaban dari nomor 4 selesai

09.21 WIB
sang pengawas berkata: “5 menit lagi..”
seisi ruangan berubah menjadi ruangan tanya jawab, dimana makhluk botak menjadi pembicara, 6 makhluk lain menjadi peserta diskusi panel, dan penulis mengambil inisiatif menjadi moderator

09.26 WIB
diambil kesimpulan bahwa pertanyaan nomor 4 tidak ada jawaban karena salah soal
*umumnya pernyataan seperti ini selalu diberikan mahasiswa sebagai defense*

09.27 WIB
pengawas menarik napas panjang, dan berujar: “waktu habis.. lembar jawaban silahkan diletakkan dimeja, dan sampai berjumpa di ujian semester depan..”

seisi ruangan menjawab: “senang berkenalan dengan anda..”

09.30 WIB
penulis meninggalkan kampus tercinta untuk kembali pulang menuju kos

sebuah percakapan

“hai.. pernah merindukan aku??”
“eum, maaf.. tapi kamu siapa??”
“aku hati nuranimu..”

*terdiam*

“kau sudah lama melupakan aku kan??”
“oh tidak.. tidak sama sekali.. hanya saja, beberapa waktu belakangan ini, kau jarang berbicara dengan aku lagi”
“karena kau tidak pernah mendengarkan aku!”
“tidak.. aku selalu mendengarkanmu.. hanya saja, kau tidak pernah mendukung apa yang aku pikirkan.. jadi…..”
“jadi…..?”

*terdiam lagi*

“aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi..”

*senyap*

“ok.. mari kita tidak saling berbicara dulu”
“lalu aku harus berbicara pada siapa?”
“kata hatimu sendiri..
“bukankah kau kata hatiku?”

*terdiam lama*

“oh bukan.. bukan.. aku hati nuranimu.. kata hatimu itu yang sering berbicara ngaco.. oh iya, aku lupa.. kau sudah membunuh dia juga ya??”
“oh?? dia?? yang itu?? kau yakin?? kukira dia setan.. iblis..”
“hohoho.. jangan katakan kau tak tahu bahwa kau hampir menjadi itu”
“jadi apa?? kata hati, apa iblis??”
“iblis!!!”

*tertunduk lesu*

“ya sudah.. itu nerakanya disana.. aku lupa memberi tau.. sekarang aku pergi dulu ya..
“tunggu.. tunggu dulu.. siapa yang dapat membantu aku??”
“hati nuranimu..”
“bukankah kah hati nuraniku??”
“oh iya.. aku lupa.. kalau begitu, tolong aku untuk tidak ikut-ikutan menjadi ‘iblis’, maka aku akan menolongmu..”
“caranya??”
“jangan menjadi iblis, tentu saja..”

*bingung*

“kau mau kemana?”
“ke neraka mungkin..”

*terbangun dari tidur*